Waduk Malahayu Brebes

Waduk Malahayu terletak di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes,Jawa Tengah; ± 6 km dari Banjarharjo atau 17 km dari Tanjung. Luas kawasan ini sekitar 944 hektare dan dibangun pada tahun 1930 oleh Kolonial Belanda.

Waduk Penjalin Brebes

Waduk Penjalin adalah sebuah bendungan yang dibangun tahun 1930 semasa penjajahan Belanda bersamaan dengan Waduk Malahayu di Brebes Bagian Utara.

Perkebunan Teh Kaligua

Perkebunan teh Kaligua merupakan kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah Brebes bagian Selatan.

Masjid Agung Kota Brebes

Masjid Agung Brebes merupakan salah satu bangunan masjid tertua di wilayah pantura Kabupaten Brebes yang didirikan tahun 1836 masa pemerintahan Bupati Raden Adipati Ariya Singasari Panatayuda I (Kyai Sura) yang bangunan aslinya berarsitek jawa kuno, dengan kubah berbentuk limas.

Bung Karno

Berteriak adalah “hobi” Sukarno. Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung.

Tampilkan postingan dengan label FALSAFAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FALSAFAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

Pra-Sokratik: Heracleitos, Parmenides & Zeno


Para fisuf sebelumnya di dunia Yunani-filsuf dari abad 6 SM telah bergulat dengan permasalahan menjelaskan alam jasmani dengan menanyakan apa yang merupakan zat dasar diluar yang menyusun bumi ini ? mereka semua sepakat bahwa berbagai macam benda yang kita lihat didunia merupakan transformasi, perubahan satu jenis benda saja, namun mereka berbeda pendapat apa yang menjadi benda atau zat dasar yang menjadikan berbagai benda tersebut: air, udara, atau api..??? Melalui ini, masalah utama filsafat tercipta-masalah perubahan, transformasi dari satu benda menjaladi banyak benda. Apakah yang berubah menjadi banyak ? Lalu bagaimana itu bisa hanya satu ? Apakah yang banyak itu hanya variasi, transformasi, ataukah perubahan dari satu benda yang permanen dan tak berubah ? Lalu bagaimana bisa jadi banyak ?

Perdebatan ini diwakili dua filsuf besar Pra-Sokratik: Heracleitos dan Parmenides. Heracleitos yang mashur sekitar tahun 500 SM, merupakan seorang anggota kehormatan kota Ephesus yang pesimis dan tersisih. Heracleitos berpendapat bahwa sifat dasar realitas adalah perubahan itu sendiri. Lawan Heracleitos adalah Parmenides dari Elea, yang masyhur pada sekitar 465 SM, dan menuliskan filsafatnya dalam bentuk puisi. Parmenides berpendapat bukan perubahan, tapi kepermanen-an yang menjadi sifat realitas. Realitas itu satu, tunggal, tetap dan tak berubah.

HERACLEITOS
1. Riwayat Hidup
Heracleitos hidup di Ephesos di Asia Minor sekitar tahun 500 SM, atau dalam keterangan lain ia hidup antara 540-480 SM. Ia adalah kawan sewaktu Pythagoras dan Xenophanes, tapi dia usianya lebih tua dari pada mereka. Sulit sekali mengerti maksud pikirannya, dan rupanya kesulitannya itu bukan saja dirasakan dalam zaman kita, sebab sudah dalam masa purba ia diberi nama julukan “si gelap (ho skoteinos).

2. Ajarannya
Menurut Herakleitos, alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah. Tidak ada satu pun di alam ini yang bersifat permanen/tetap. Apa yang kelihatan tetap, sebenarnya ia berada didalam proses perubahan yang tiada henti-hentinya. Adapun ucapan-ucapan Heracleitos yang sangat terkenal yang menggambarkan pandangan filsafatnya, yaitu: pan tarhei kai uden menei, “semuanya mengalir dan tidak ada satu pun yang tinggal menentap”. Heracleitos berkeyakinan bahwa api adalah elemen utama dari segala sesuatu yang timbul. Karena api itu lebih dari pada air dan udara dan setiap orang dapat melihatnya, dan sebagai sifatnya api mudah bergerak dan mudah bertukar rupa pula. Dan perubahan yang tak henti-henti itu dibayangkan Heracleitos atas dua cara:

1. Ia mengatakan bahwa seluruh kenyataan merupakan arus sungai yang mengalir.
Maksudnya, sungai selalu mengalir terus, sehingga air sungai senantiasa dibaharui. Seperti yang terdapat dalam fragmen yang terkenal “Engkau tidak bisa turun dua kali kesungai yang sama”.

2. Ia mengatakan bahwa seluruh kenyataan adalah api.
Karena menurutnya asal segala sesuatu itu hanyalah satu analisir, yakni api. Karena api membakar semuanya, menjadikan semuanya api dan akhirnya menukar/berubah lagi menjadi abu, semuanya bertukar menjadi api, dan api bertukar menjadi semuanya. Api yang yang selalu bergerak dan berubah rupa itu menyatakan, bahwa tidak ada yang tenang dan tidak ada yang tetap, semuanya berubah-ubah.

PARMENIDES
1. Riwayat Hidup
Parmenides adalah seorang Filosof Elea yang di lahirkan di Elea, tepatnya di Italia Selatan, sekitar tahun 54 SM. Tapi, ada pula yang mengatakan ia lahir sekitar tahun 515 SM. Pada tahun ini, dapat ditentukan atas kesaksian Plato yang menceritakan bahwa Parmenides pada usia 65 tahun bersama dengan muridnya Zeno, berkunjung ke Athena dimana ia bercakap-cakap dengan Sokrates yang masih muda pada saat itu.

Parmenides adalah seorang ahli politik dan ia juga pernah memangku jabatan pemerintahan. Tapi, ia terkenal bukan karena itu, melainkan karena ia adalah seorang ahli fikir yang melebihi siapa saja pada masanya. Parmenides adalah murid dari Xenophanes, yang pada waktu mudanya ia sangat tertarik pada lagu-lagu Xenophanes, yang menurutnya banyak mengandung pelajaran. Dan ia mengarang filsafatnya dalam bentuk puisi/syair-syair.

2. Ajarannya
Parmenides dikatakan sebagai logikawan pertama dalam sejarah Filsafat, bahkan disebut filosof pertama dalam pengertian modern. Ini disebabkan karena fahamnya yang menganggap segalanya tentang benar atau tidaknya sesuatu bergantung kepada logika sepenuhnya. Pikiran Parmenides adalah kebalikan dari Heracleitus. Bagi Heracleitus, realitas seluruhnya tidak lain adalah gerak dan perubahan, bagi Parmenides, gerak dan perubahan tidak mungkin. Menurutnya realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Menurutnya, jalan kebenaran bersandar pada satu keyakinan dan Parmenides akhirnya membulatkan pokok keterangannya/ajarannya dengan semboyan “ hanya yang ada itu ada, dan yang tidak ada itu tidak”. Itulah kebenaran menurutnya.

Dan ajaran kebenaran yang disampaikan oleh Parmenides tentang yang “ada” ada dan “yang tidak ada” tidak ada, menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak kecil.

1. “yang ada” adalah satu dan tak terbagi, pluralitas (kejamakan) tidak mungkin. Tentu saja, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan “yang ada”.

2. “yang ada” kekal dan tidak terubahkan. Karena seadainya ada prubahan, itu berarti “yang ada” mejadi tidak ada atau “yang tidak ada” menjadi “yang ada”

3. Lantas harus dikatakan bahwa “yang ada” itu sempurna, karena tidak ada sesuatupun yang dapat ditambah dari padanya dan tidak ada yang dikurangi

4. “yang ada” mengisi segala tempat dan tidak ada ruang kosong.

ZENO
1. Riwayat Hidup
Zeno lahir di Elea sekitar tahun 490 SM, ia adalah murid setia Parmenides. Sebagaimana gurunya, ia pun mempunyai peranan politik dalam dikota Elea. Ia mempertahankan filsafat gurunya tidak dengan menyambung keterangan ataupun menambahkannya, melainkan dengan membalikan serangan terhadap perkataan lawannya. Ia pernah mengarang beberapa buku, tapi semuanya telah hilang. Menurut cerita Plato, salah satu bukunya yang terkenal itu dikarangnya pada usia muda, yang didalam buku itu ia membela ajaran gurunya Parmenides.

2. Ajarannya
1. Agumentasi melawan ruang kosong

Andai saja bila ruang kosong ada, ruang itu mempunyai ruang dalam ruang lain, yang harus ditempatkan dalam ruang lain lagi dan seterusnya sampai tak terhingga. Dan itu pasti mustahil. Maka, dapat disimpulkan bahwa ruang kosong itu tak ada, maksudnya sama seperti Parmenides, “yang ada” itu tidak ditempatkan dalam suatu yang lain.

2. Argumentasi melawan pluralitas
Jika suatu potongan garis terdiri dari titik-titik, maka potongan garis itu dapat dibagi-bagi. Karena setiap bagian itu, sekurang-kurangnya memilki dua titik, yaitu titik pangkal dan titik akhir. Dan titk-titik itu memilki panjang tertentu atau tidak. Jika titik yang panjangnya tertentu, dapat disimpulkan bahwa potongan garis itu tak terhingga panjangya. Dan jika titik tidak memilki panjang tertentu, dapat disimpulkan bahwa potongan garis itu, tak terhingga pendeknya (sama dengan nol). Tapi, kedua kesimpulan itu, sama mustahilnya, karena, ternyata suatu potongan garis mempnyai panjang yang berhingga. Dan dengan kata lain, pluralitas itu tidak mungkin.

3. Argumentasi melawan gerak
Zeno memberi empat argument, untuk membuktikan bahwa gerak itu tidak mungkin. Disini jalan fikiran Zeno sama dengan argumentasi-argumentasi diatas.

a. Akhilles dan kura-kura
Akhiles, seorang yang larinya cepat seperti kilat, ia tidak dapat mengejar kura-kura, yang begitu lambat jalannya. Akhilles harus lebih dahulu mencapai titik dimana kura-kura berada saat ia berangkat. Setibanya disitu, kura-kura sudah lebih jauh lagi dan seterusnya. Dan jarak antara Akhilles dan kura-kura selalu berkurang dan tidak pernah habis-habis.

b. Anak panah
Anak panah yang dipanahkan dari busurnya tidak bergerak, tetapi diam. Karena, saat ia berada dalam suatu tempat tertentu yang sama persis dengan panjangnya, ia selalu berada antara kedua ujungnya, dan selalu dalam kadaan diam. Dan pada saat berikutnya ia berada lebih jauh, tetapi ia juga tetap tidak bergerak., melainkan diam.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hakim, Atang, Drs., Ahmad Saebani, Beni, Drs., Filsafat Umum, Bandung, 2008
Bertens, Dr. K., Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, 1999
Hatta Mohammad, Alam Fikiran Yunani, Jakarta, 2006

Cina: Nyanya dan Waisesika


adapun Zaman Weda yang meliputi Weda Samhita, Weda Brahmana, dan Upanisad dan kali ini pemakalah akan menjelaskan Zaman Sutra-Sutra (200 M). Zaman ini di tandai dengan perkebangannya sikap kritis terhadap India. Pada zaman Wiracarita ( 600SM-200M), orang sudah mulai melihat pentingnya sarana-sarana pembantu untuk dapat menjelaskan segala macam mantra dan bahasa-bahasa kuitis, apalagi orang sulit memahami bahasa sangkrit. Alat-alat bantu itu adalah ilmu fonetik, tata bahasa dan lain-lain. Sebelum itu sudah ada kitap Wedanta yang pada mulanya di tutur secara lisan namun kemudian di bukukan kedalam bentuk sutra, yakni tulisan-tulisan singkat dalam bentuk prosa supaya mudah di hafal dan dibaca.

Pentahapan sutra-sutra itu sebagai berikut: 1. Kalpasutra yaitu penjelasan sistematis tentang korban. 2. Dharmasutra yaitu sutra yang berisikan tentang Dharma, yaitu tugas dan kewajiban manusia.yang di tuntut Weda.

Sistem-sistem filsafat india terdiri dari dua golongan, yaitu: golongan Askita (ortodoks) dan golongan Nastika (heterodoks). Yang termasuk golongan Astika adalah filsafat yang mengakui kedaulatan Weda, sedangkan golongan Nastika tidak mengakuinya. Adapun yang termasuk golongan Nastika ialah apa yang disebut Zad darsana atau enam sistem filsafat, yaitu: Nyaya, Waisesika, Sankhya, Yoga, Purwamimamsa, dan Uttra Mimamsa, atau Wedanta. Kedua dari ke enam sistem inilah yang akan di bicarakan di dalam makalah ini.[1]

Nyaya
Nyaya adalah ajaran logika dan cara berdebat, oleh Gautama. Berpangkal pada penafsiran dan penyelidikan tulisan-tulisan kuno ditentukan suatu cara berpikir (nyaya). Terutama terkenel dengan uraian alat-alat pengetauan yang disebut pramana (terdiri dari pratayaksa: pengalaman indera; anumana atau induksi; sabda, yakni tradisi atau kewibawaan; upawama: penalaran) dan aunumana: silogisme india.[2] Nyaya berpangkal kepada keyakinan bahwa dunia di luar kita itu berdiri sendiri, lepas daripada pikiran kita. kita dapat mempunyai pengetahuan tentang dunia diluar kita itu, yaitu dengan perantaraan pikiran kita. di dalamnya usaha untuk mengetahui diluarnya, pikiran dibantu oleh indera kita. karena pendirian yang demikian ini maka sistim nyaya dapat disebut sistim yang realistis.

Menurut sistim nyaya ada empat alat untuk mendapatkan pengatahuan yang berlaku atau yang benar, yaitu: [3]

1. Pengamatan ( pratyaksa)
Memberikan pengetahuan kepada kita tentang sasaran yang diamati menurut ketentuan sasaran itu masing-masing ( meja bundar, kursi panjang, dan sebagainya). Pengetahuan itu dimungkinkan karena adanya hubungan diantara panca indera kita dengan sasaran yang diamati. Hhubungan ini adalah hubungan yang nyata, yang benar-benar ada. Sebab setiap indera kita di buat dari salah satu dari kellima anasir, dari mana dunia ini dijadikan (aksa (eter), hawa, api, air dan bumi).tiap indera berhubungan dengan sifat khas dari sasaran yang diamati, umpamanya: mata melepaskan sinar-sinar yang menangkap warna, telinga menangkap suara ( hawa, angin) dan sebagainya.

Memang adakalanya pengamatan dapat terjadi tanpa pertolongan indera, akan tetapi ini adalah pengamatan yang luar biasa atau yang bersifat transendan, yaitu umpamanya, bahwa seorang yogin dapat bicara secara langsung mengetahui hal-hal yang tidak dapat diamati oleh orang biasa. Hal ini disebabkan karena orang itu memiliki kekuatan gaib yang memungkinkan dia berhadapan dengan sasaran-sasaran yang mengatasi indera kita.

2. Penyimpulan ( anumana)
Ajaran yang terpenting di dalam sistim nyaya ialah ajaran tentang penyimpulan ( anumana). Secara harfiah kata anumana berarti “pengetahuan kemudian”. Dengan pengamatan kita mendapatkan pengetahuan secara langsung. Kita melihat sebuah meja, lalu tahu itual meja. Tidaklah demikian halnya dengan pengetahuan yang diperoleh dengan penyimpulan. Pengetahuan yang diperoleh dengan penyimpulan memerlukan sesuatu yang berada diantara subyek yang mengamati dan obyek atau sasaran yang diamati. Umpamanya: kita melihat gunung merapi memerlukan asap. Pengamatan memberitahukan bahwa yang kita lihat itu “ gunung berasap”. Akan tetapi penyimpulan memberitahukan, bahwa yang kita lihat itu “gunung berapi”. Diantara mata saya dan asap yang dilihat ada “api” ditengah-tengahnya.
Cara menyusun uraian itu adalah sebagai berikut:[4]
1. Gunung itu berapi
2. Sebab ia berasap
3. Apa saja yang berasap tentu berapi (misalnya dapur)
4. Jadi, gunung itu berapi

Uraian “menyimpulkan” ( syllogism) di atas bermaksud menunjukan bahwa adanya api di gunung (5) disimpulkan dari pengamatan adanya asap pada gunung (2). Kesimpulan itu dapat diambil, karena ada dalil umum, yang mengahi, yang menunjukan bahwa ada hubungan yang erat antara api dan asap (3). (Perlu diperhatikan, bahwa dalil umum dikuatkan dengan suatui contoh yang khas, yaitu dapur. (3). Hal ini menunjukan, bahwa dalil umum itu didasarkan atas pengalaman juga).

Jadi, pengetahuan kita tentang api di gunung itu tergantung daripada pengamtan kita tentang asap, yang memang sudah dikeanal sebagai yang senantiasa menyertai api. Pengamatan kita sendiri hanya menunujukan bahwa ada asap pada gunung. Agar supaya kita dapat meyimpulkan bahwa ada api di gunung itu, diperlukan bantuan dalil umum yang berdasarkan pengamatan juga. Teranglah, bahwa pengamatan yang diperoleh dengan penyimpulan itu memerlukan perantara. Atau dapat dikataka bahwa pengetahuan yang karena peyimpulan itu memerlukan bantuan pengetahuan lain.

3. Pembandingan ( upamana)
Yaitu alat pengetahuan yang menjadikan orang tahu adanya kesamaan antara dua hal. Pembandingan menghasilkan pengetahuan tentang adanya hubungan anatara nama atau sebutan dengan obyek atau sasaran yang disebut nama itu. Umpamanya: seorang penduduk kota telah kenal akan nama atau sebutan gawaya ( lembu hutan), akan tetapi belum tahu isi sebutan itu, karena belum pernah melihat binatangnya. Dari seorang penjaga hutan ia mendengar bahwa gawanya adalah binatang hutan yang serupa dengan lembu. ( penduduk kota sudah tahu apa lembu itu, sebab lembu berkeliaran di mana-mana). Ketika ia pergi ke hutan ia melihat seekor binatang yang belum pernah ia lihat, tetapii yang serupa dengan lembu. Ia inagat akan keterangan yang diterimanya dari penjaga hutan, maka segera ia melihat kesamaan anatar nama gawanya dengan binatang yang sedang dilihatnya itu.

4. kesaksian ( sabda).
Alat pengetahuan atau pramana yang terakhir adalah kesaksian sabda, yaitu (1) kesaksian yang diberikan orang yang dapat dipercaya, yang dinyatakan di dalam kata-katanya (laukika), dan (2) kesaksian weda (waidika). Oleh karena semua bagian kitab weda dipandang sebagai wahyu tuhan, maka kesaksian kitab weda dipandang sebagai sempuirna dan tidak salah. Akan tetapi kesaksian manusia tidaklah demikian. Kesaksian manusia dianggap benar jika yang menyaksikan adalah orang yang dapat dipercaya.[5]

Tuhan termasuk golongan jiwa. Perbedaannya ialah bahwa tuhan adalah jiwa yang tertinggi, yang kekal, yang berada dimana-mana dan kesadaran yang agung. Tuhan disebut paramatman, dan menjadi sebab adanya dunia ini. Ia adalah penggerak pertama dari atom yang pertama. Kemudian atom-atom itu karena penggabungan menjadi dunia yang besar ini. Tuhan bukan hanya menjadi pencipta dunia, ia jugalah yang merawatnya dan yang meleburnya, sesuai dengan karma atau perbuatan para jiwa.

Waisesika
Waisesika: sedikit lebih tua dari pada nyaya. Mulanya ia berdiri sendiri namun kemudian mulai bersatu dengan nyanya. Tujuan pokok waisesika bersifat metafisis. Isi pokok ajarannya menerangkan tentang dharma, yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dalam dunia ini dan yang memberikan kelepasan yang menentukan. Yang terpenting dari ajaran Waisesika ialah ajaran tentang kategori-kategori dari segala yang ada.

Menurut Waisesika ada tujuh katagori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa) pelekatan (samawaya) dan ketidakadaan.[6]

1. Substansi menurut paham ini adalah sesuatu yang bebas, tidad tergantung
pada kategori yang lain. ada Sembilan macam substansi, yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa (kelima anasir), waktu, ruang, pribadi (atman) dan akal (manas). Kesembilan substansi ini bersama-sama membentuk alam semesta ini baik yang jasmani maupun yang rohani.[7]

Substansi yang termasuk bahan atau zat jasmaniah adalah: bumi, air, hawa dan waktu serta ruang, sedang yang termasuk zat rohani adalah: pribadi ( atman) dan akal (manas). Kedua inilah yang membentuk “pribadi”.

2. Kwalitas, kwalitas ada yang berlakusecara khusus pada beberapa substansi
dan ada juga yang bersifat umum, dalam arti bahwa kwalitas itu terdapat lebih dari satu kelompok substansi. Keempat anasir pembentuk bumi memiliki kwalitas yang berbeda-beda. Hawa memiliki kwalitas raba, api memiliki kwalitas raba dan warna, air memiliki kwalitas raba, warna dan rasa, sedang bumi memiliki kwalitas raba, warna, rasa dan bau. Dari kwalitas-kwalitas yang bermacam-macam itu biasanya satu dipandang sebagai yang membedakan anasir yang satu dengan yang lain.

3. Pelekatan, secara teori suatu substansi dapat berada tanpa suatu kwalitas
untuk sementara waktu, akan tetapi tidak ada kwalitas yang didapatkan sendiri. Ketergantungan yang sepihak ini membuktikan bahwa hubungan substansi dan kwalitas adalah suatu hubungan yang disebut pelekatan yakni, tidak terputus-putus antara dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

4. Aktifitas, hubungan yang sama dengan ini berlaku bagi hubungan
substansi dengan aktivitas, “gerak” atau “perbuatan”. Yakni kategori yang ke-3. Tidak semua substansi dapat bergerak. Hanya substansi yang terdiri dari atom-atom dan yang bersifat terbataslah yang dapat mengubah tempatnya yang dapat membuat gerak.

5. Sifat perorangan, perbedaan diantara atom dengan atom yang lainnya
merupakan sifat individualiltas dari masing-masing atom tersebut.

6. Sifat Umum, cirri-ciri umum yang menjadikan semuanya itu dapat
dikelompokan disebut samanya “hal yang umum. Cirri umum ini tidak pernah berdiri sendiri, tetapi tampak hanya melalui hal-hal yang khusus bersama-sama.

7. Abhawa, ketidakadaan yang menyatakan sesuatu tidak berada disuatu
tempat. Kategori ini harus dibedakan dengan “tidak ada secara mutlak”.

Penutup
Nyaya adalah pembicaraan mengenai bagian umum filsafat dan metodologi penelitian yang kritis (ilmu berdebat). Menurut system ini terdapat empat alat pengetahuan yang benar yakni pengamatan (relasi dengan duna luar), penyimpulan (silogisme), perbandingan dan kesaksian.

Waisesika: sedikit lebih tua dari Nyaya. Mula-mula ia berdiri sendiri namun kemudian bersatu dengan nyaya. Karena itu disebut nyaya-weisesika. Tujuan pokoknya bersifat metafisis dan dijelaskan tentang dharma (tugas, kewajiban, kebahagiaan dan pelepasan). Ia mengemukakan tujuh kategori dari segala sesuatu yang ada. Substansi memiliki Sembilan macam unsure. Semuanay bersama-sama membentuk alam semesta (jasmani dan rohani).

Demikianlah urain-uraina tentang Nyaya dan Weisesika yang sangat singkat ini, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Daftar Pustaka
Ahmad, Sudiarja Dkk. Karya lengkap Driya Arkara. Jakarta: Gramedia. 2006.
Hadiwijono, Harun, Sari Filsafat India, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985.
Kebung, Konrad. Filsafat berfikir orang Timur. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2011
____________________
[1] Konrad Kebung. Filsafat Berfikir orang Timur. Jakarta: Prestasi Pustaka. Hal. 107
[2] Ahmad, Sudiraja Dkk. Karya lengkap Driya Arkara. Jakarta: Gramedia. 2006. H. 1058
[3] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulia 1985. H. 53
[4] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulia 1985. H. 55
[5] Harun, Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulia 1985. H. 56
[6] Harun, Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta Pusat: Bpk Gunung Mulia 1985. H. 58
[7] Konrad Kebung. Filsafat berfikir orang Timur. Jakarta: Prestasi Pustaka. Hal. 108-109

Filsafat Agama dan Tuhan


Ketika seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, maka timbullah tanda Tanya dalam hatinya sendiri tentang banyak hal. Dalam lubuk hati yang dalam memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang merupakan suatu misteri yang terselubung. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain, dari mana saya ini, mengapa saya tiba-tiba ada, hendak kemana saya dan lain-lain bisikan kalbu.

Dari arus pertanyaan yang mengalir dari bisikan hati itu, terdapat suatu cetusan yang mempertanyakan tentang penguasa tertinggi alam raya ini yang harus terjawab. Pada tahap ini, bukan saja naluri yang bergolak, tetapi otak dan logika mulai main untuk membentuk pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan. demikianlah fitrah manusia bergolak mencari dan merindukan Tuhan, mulai dari bentuk yang dangkal dan bersahaja berupa perasaan sampai ke tingkat yang lebih tinggi berupa penggunaan akal (filsafat).[1]

Manusia: Agama dan Tuhan
Menurut Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia tidaklah muncul dengan sendirinya atau berada oleh dirinya sendiri.[2] Al-Quran surat Al-Alaq ayat 2 menjelaskan bahwa manusia itu dicipta Tuhan dari segumpal darah, QS.Al-Thariq ayat 5 menjelaskan bahwa manusia dijadikan oleh Allah, QS. Al-Rahman ayat 13 menjelaskan bahwa Al-Rahman (Allah) itulah yang menciptakan manusia. Masih banyak sekali ayat al-Quran yang menjelaskan bahwa yang menjadikan manusia adalah Tuhan. Jadi, manusia adalah mahluk ciptaan Allah.

Pengetahuan kita tentang asal kejadian manusia ini amat penting artinya dalam merumuskan tujuan pendidikan bagi manusia. Asal kejadian ini justru harus dijadikan pangkal tolak dalam menetapkan pandangan hidup bagi orang Islam. Pandangan tentang mahluk manusia cukup menggambarkan hakikat manusia. Manusia adalah mahluk (ciptaan) Tuhan, jadi inilah salah satu hakikat wujud manusia.

Hakikat wujudnya yang lain ialah bahwa manusia adalah mahluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Salah satu sabda Rasulullah SAW mengatakan :

“Tiap orang dilahirkan membawa fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”

Menurut hadits ini manusia lahir membawa kemampuan-kemampuan, kemampuan itulah yang disebut pembawaan. Fitrah yang disebut di dalam hadits itu ialah potensi. Jadi fitrah yang di maksud di sini ialah pembawaan. Manusia adalah makhluk yang berkembang karena dipengaruhi pembawaan dan lingkungan, adalah salah satu hakikat wujud manusia. Dalam perkembangannya, manusia itu cenderung beragama, inilah hakikat wujud yang lain.

Manusia mempunyai banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang dibawanya. Dalam garis besarnya, kecenderungan itu dapat dibagi dua, yaitu kecenderungan menjadi orang yang yang baik dan kecenderungan menjadi orang yang jahat. Kecenderungan beragama termasuk ke dalam kecenderungan menjadi baik.

Al-Quran menjelaskan bahwa manusia itu mempunyai aspek jasmani, sebagaimana tercantum dalam QS.Al-Qashash : 77

“Dan carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu dan kamu tidak boleh melupakan urusan dunia…” (Q.S: al-Qashash: 77)

Yang dimaksud dengan “dunia” dalam ayat ini ialah hal-hal yang diperlukan oleh jasmani. Al-Syaibani juga mengutip tiga buah hadits dari nabi Muhammad SAW yang menerangkan pentingnya menjaga jasmani. Uraian di atas menunjukkan bahwa manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani.

Karl Marx merupakan Tokoh sentral dalam sosiologi, walaupun terdapat berbagai tokoh besar sosiologi yang berjasa membangun ilmu sosiologi sebagai pengetahuan, namun jika dilihat dari perkembangan sosiologi banyak mengadopsi dan merupakan hasil dari kritisi terhadap Marx. Karl Marx sendiri tidak mengakui dia adalah seorang sosiolog, tetapi secara fundamental Marx telah melahirkan konsep sosiologi yang masih relevan dengan semakin berubahnya zaman, seperti konsep Alineasi, dialektika, Materialisme historis, Konsep kelas dan sebagaainnya. Konsep sosial Marx bukan hanya menjadi imajinasi semata tetapi telah dibuktikan dan diadopsi oleh berbagai negara didunia, di Uni Soviet Marx dianggap sebagai “Nabi Kemanusian” yang mengajarkan kepada manusia arti sebuah kehidupan dan keadilan. Konsep sosial Marx menghasilkan Negara Uni Soviet yang dibentuk melalui pemikiran-pemikiran Marx yang diinterpretasikan oleh Lenin dan Stalin. Bahkan terbentuknya negara Iran sebagai negara islam yang berdiri kokoh tidak lepas dari pemikiran Karl Marx yang diadopsi oleh para intelektual Iran, kususnya oleh bapak pembaharu dan intelektual Iran Ali Syariati yang mendialektikakan antara islam dan komunisme, yang menjadi puncaknya adalah tumbangnya rezim Iran yang dipimpin oleh rezim Pahlevi.

Agama dalam sosiologi merupakan suatu kajian yang sangat penting dalam sosiologi, bahkan para pendahulu sosiologi baik itu August Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, selalu membahas agama dalam konsep sosiologinya. Disini akan dibahas konsepsi agama menurut Marx, adapun Konsepsi agama menurut Durkheim dan Weber akan dijelaskan dalam pembahasan yang selanjutnya. Marx adalah tokoh yang hidup dimasa 3 revolusi sehingga Marx mengalami sendiri realitas masyarakat diera tersebut, sehingga pembacaan terhadap agamapun secara konteks sangat dipengaruhi oleh sosialkultural masyarakat eropa diabad pertengahan.

Marx menkonsepsikan kehidupan dalam suatu basis materialisme yang universal yang menjadi penggerak sejarah, yaitu struktur basis yang merupakan penggerak utama struktur supra. Struktur basis adalah ekonomi yang mencangkup seluruh proses ekonomi baik produksi, konsumsi, persaingan ekonomi, dan sebagainya. Sedangkan struktur supra terdiri dari berbagai sektor misalnya politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya, struktur supra ini merupakan representasi (gambaran) dari struktur basis.

Ekonomi adalah pondasi dasar sejarah kehidupan manusia, karena ekonomi merupakan induk dari segala sub struktur kehidupan yang melahirkan berbagai basis supra. Jika kita menelaah dari perspektif ibnu Khaldun dalam bukunya al-Muqaddimah maka akan kita temukan alur pemikiran Ibnu Khaldun yang senada dengan Karl Marx, walaupun secara esensinya personalisasinya berbeda. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa “ Kodrat manusia tidak cukup hanya memperoleh makanan. Sekalipun makanan itu ditekan sedikit-dikitnya sekedar cukup untuk makan sehari-hari saja, misalnya sedikit gandum, namun diperlukan usaha yang banyak juga. Misalnya menggiling, meramas, memasak. Masing-masing pekerjaan membutuhkan sejumlah alat, dan hal inipun menuntut pekerjaan tangan yang lebih banyak lagi dari yang telah disebutkan diatas”.[3] Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya kecuali dengan bergotong royong dengan menggabungkan dengan beberapa ahli.

Dari pernyataan tadi dapat kita simpulkan bahwa penggerak sejarah manusia adalah konsumsi kemudian dengan konsumsi tersebut melahirkan segala bentuk sub struktur baik itu organisasi politik, prosuksi, sosial kemasyarakatan dan sebagainya. Dengan konsumsi tadi manusia bekerja sesuai dengan keahliannya dalam masyarakat dimana inilah yang membentuk spesifikasi keahlian, dari konsumsi melahirkan produksi, pabrik, organisasi politik, sosial, kebudayaan dan sebagainya. Yang membedakan pembacaan Ibnu Khaldun dan Marx adalah wujud personalisasinya jika menurut Ibnu Khaldun manusia memperoleh kodrat tersebut dari Tuhan maka Marx mengatakan bahwa hal tersebut merupakan hakikat dari manusia itu sendiri.

Struktur basis dalam konteks Marx adalah bangunan dasar atau pondasi pokok dalam sejarah atau kehidupan manusia, dimana struktur basis ini adalah yang melahirkan struktur supra. Agama, politik, budaya dan sebagainya dilahirkan dari ekonomi, asumsi dasar Marx adalah ketika manusia menjauh dari Ekonomi atau untuk memperkuat kelancaran ekonomi maka manusia akan berpaling atau membentuk struktur yang lain yang mendukungnya. Mengapa agama lahir dari ekonomi? Pertanyaan ini dapat dijawab menggunakan filsafat yang sederhana “ pada manusia primitif agama difungsikan untuk menggambarkan rasa syukur karena panen yang melimpah atau sebagai ritual pengorbanan untuk mempersembahkan korban karena gagal panen atau terserang wabah penyakit”. Artinya dalam filsafat tadi agama hanya dijadikan alat sebagai pemenuhan hasrat ekonomi dan ketakutan manusia.

Marx menafsirkan agama sebagai candu bagi masyarakat “ Kesukaran agama- agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan protes melawan kesukarann yang sebenarnya. Agama adalah nafas lega makhluk tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spirit kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat” (Marx, 1843/1970).[4]

Hubungan antara Filsafat Ketuhanan dan Agama
Filsafat ketuhanan dan agama, yakni adanya saling isi-mengisi dan saling tunjang-menunjang. Keduanya terdapat persamaan besar, yakni sama-sama membahas masalah ketuhanan. Perbedaan antara Filsafat ketuhaanan dengan agama didapati di dalam system yang dipergunakan, Agama mengajarkan manusia mengenal Tuhannya atas dasar wahyu (kitab suci), sebaliknya, filsafat ketuhanan mengajarkan manusia mengenal Tuhan melalui akal fikiran semata-mata yang kemudian kebenarannya didapati sesuai dengan wahyu (kitab suci).

Dengan kata lain, bahwa baik agama maupun filsafat ketuhanan sama-sama bertolak dari pangkalan pelajaran Ketuhanan, tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Masing-masing menempuh cara dan jalannya sendiri, namun keduanya akan bertemu kembali di tempat yang dituju dengan kesimpulan yang sama: Tuhan Ada dan Maha Esa.[5]

Kesimpulan
Agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Kita sebagai umat islam belum semuanya berusaha kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW.

Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu menwujudkan misi “Rahmatan lil’alamin” maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan tekhnologi).

Pendidikan akhlak ini sangat penting karena menyangkut sikap dan prilaku yang musti di tampilkan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial (keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang terpuji sangat penting dimiliki oleh setiap muslim (masyarakat), sebab maju mumdurnya suatu bangsa atau Negara amat tergantung kepada akhlak tersebut.

Daftar Pustaka
George Ritzer dan Douglas, Sosiological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2004). www.google.com
Hamzah Yaqub, Filsafat Agama, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992).
Ibnu Khaldun, AL-Muqaddimah. (Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 2000 diterjemahkan oleh Ahmad Thoha).
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. (Bandung : Rosda Karya, 2005).
__________________
[1] Hamzah Yaqub, Filsafat Agama, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), h. 01
[2] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung : Rosda Karya, 2005). Hal.34
[3] Ibnu Khaldun, AL-Muqaddimah, (Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 2000 diterjemahkan oleh Ahmad Thoha), hlm. 71
[4] George Ritzer dan Douglas, Sosiological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2004). hlm. 74
[5] Hamzah Yaqub, Filsafat Agama, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), h. 12

Filsafat Islam Nashr al Din al Thusi

Bahwa Nashr al Din al Thusi (597-672 H/1201-1274 M), hidup pada masa yang hampir bersama’an dengan St. Albertus Magnus dan St. Tomas Aquinas dan sama-sama mempunyai perhatian teologis dan filosofis yang besar. Ia mengabdi di istana penakluk dunia, menyaksikan kehancuran baghdad dan keruntuhan kekhalifahan Abasiyah. Kemudian Nashr al Din al Thusi, baru berusia tiga tahun ketika filosof yahudi terkenal moses Maimonides (1135-1204 M.) meninggal di kairo. Kempat filosof mengganbarkan puncak kegiatan filosofis yang terdapat dalam tiga agama dari rumpun ibrohimiyah masa itu. Warisan filsafat yunani, khususnya Aristoteles memenuhi benak mereka dengan intensitas hampir sama dengan perjanjian lama dan baru serta al-Qur’an. Dibawah ini akan kami jelaskan sedikit tentang siapa Nashr al Din al Thusi, pembahasan etika dan teologi filsafatnya.[1] Selamat menyimak…!!! 


Sejarah Hidup Nashr al Din al Thusi 
Nashr al Din al Thusi lahir di Thus pada sabtu dini hari 11 Jumadil ula 597 H/16 Februari 1201 M, pada abad ke-13. Asal usul keluarganya dapat diruntut kebelakang pada Jahrut dari Sa’wah, namun pada sa’at ia dilahirkan keluargannya menetap di Thus. Ia menerima pendikikan awalnya di thus dibawah asuhan ayahnya sendiri yaitu Muhamad Ibnu Alhasan, seorang fakih syi’ah yang terkenal. Topik-topik pendidikannya antara lain bahasa dan tata bahasa Arab, studi-studi al-Qur’an dan hadis, disamping fikih syi’ah, hukum, logika, ilmu-ilmu alam dan metafisika dan juga matematika.

Pada masa mudanya, Nashr al Din al Thusi meninggalkan Thus menuju Naisyafur guna menambah lagi ilmunya, yang bersetatus sebagai pusat intlektual dunia Islam bagian timur. Diantara sarjana-sarjana yang pernah menjadi guru adalah farid al-Din Damad Nisyapuri. Yang merupakan penerus Ibnu Sina, sehingga Nashr al Din al Thusi bertalian langsung dengan guru filsafat Peripatetik dengan mengkaji karya Ibnu Sina yaitu al-Isyarat wa al-Tanbihat. Ia belajar matematika kepada Kamal Ibnu al-Din Ibn Yunus al-Nisyri dan mempelajari beragam subjek kepada sejumlah sarjana terkemuka lainnya. Serbuan Mongol atas Khurasan pada awal abad ketuju terjadi pada sa’at Nashr al Din al Thusi menyelsaikan pendikikannya di Nisyapur, yang menjadi tempat yang kian rawan ditempati. Ketika seorang pangeran Ismail yaitu Nashir al Din Abd al Rohim Ibn Ibnu Mansur, mengundang Nashr al Din al Thusi untuk bergabu ng dengannya di istananya, ia segera menerima dan menemukan tempat perlindungan dikaum ismailiyah pada periode ini ia mengembangkan dan menterjamahkan kitab al-Tharah Abu Ali Miskawaih al Razi menjadi akhlak an-Nashiri atas nama penguasa dan pelindungnya. Ketika Nashr al Din al Thusi berada Di Quhistan, Hulagu, panglima perang Mongol diutus oleh saudaranya Mangu khan, penerus Jengis Khan untuk memerangi kaum Isma’iliyah. Pada tahun1255 M, Hulagu menyerbu Persia pada tahun 1256 M, ia mengalahkan penguasa Isma’ili Rukhn al-Din khursiyah, dan menduduki benteng Alamud, yang didalami ada Nashr al Din al Thusi, singkatnya menjadi seorang tawanan. Peran Nashr al Din al Thusi yang menyebabkan penguasa Ismaili menyerah secara damai kepada Hulagu, menjadikannya sangat berharga bagi panglima perang Mongol itu.[2]

Di masa itu juga ia belajar matematika dan astronomi kepada Kamal al-Din Yunus (wafat 639H/1242M). Kemudian ia berkorespondensi dengan al-Qaysari, menantu dari Ibn al-‘Arabi, dan kelihatannya ajaran mistis yang disebarkan oleh para master sufi di masanya tidak dapat diterima akalnya dan dalam suatu kesempatan yang tepat, ia menyusun manual sendiri tentang filsafat sufisme dalam bentuk booklet (buku kecil) berjudul “Awsaf al-Ashraf: The Attributes of the Illustrious/Noble”.

Perkembangan intelektual Tusi tidak dapat dipisahkan dari drama perjalanan hidupnya dan dari bencana invasi Mongol ke wilayah Timur Islam. 

Setelah itu, Nashr al Din al Thusi mengabdi kepada panglima perang Mongol yang agung itu. Pada tahun 1257 M. Hulagu mendekati Bagdad, diantara pengiring anggota utamanya adalah Nashr al Din al Thusi yang terlibat aktif dalam panjang insiden dan perundingan Halagu dan kholifah al-Mustashim.pada suatu kesempatan Hulagu mengutus Nashr al Din al Thusi bernegosiasi mewakilinya dengan kholifah Abasiyah. Ketika Hulagu menyerang Bagdad, ia menempatkan Nashr al Din al Thusi dipintu gerbang kota guna melindungi rakyat tak berdosa. Cukup merawankan kekuasaan al-Mustashim yang memang sudah lemah. Pada suatu kesempatan selama pengepungan Bagdad ia mengutus Nashr al Din al Thusi agar memengaruhi kholifah supaya bersedia menyerah, al-Mustashim mula-mula menolak, tetapi akhirnya pada tahun 1258 M. ia beserta keluarganya bertakluk kepada Hulagu. Kemudian kholifah dibunuh sepuluh hari kemudian dengan cara oleh beberapa sumber juga dihubung-hubungkan oleh Nashr al Din al Thusi, padahal yang membunuh adalah seorang astrolog saingannya yaitu Hisyam al Dhin al Munajim. Kemudian sejumlah anggota keluarga kholifah, seperti putra bungsu, Mubarak-Syah, diselamatkan oleh istri Hulagu, yaitu Uljai-Khatun.

Nashr al Din al Thusi bertolak ke Hilah pusat pendidikan penting di Irak, tempat ia mengunjungi Muhaqiq Hili, seorang fakih Syi’ah terkemuka, dan terlibat dalam perbincangan fikih dengannya melalui Muhaqiqi Hili inilah berjumpa dengan para teolog. Sekembalinya ke Maraghah, mengikuti perintah Hulagu ia mengawasi pembangunan observatorium terkenal. Hulagu meninggal sebelum Nashr al Din al Thusi menyelesaikan seluruh siklus pengamatannya. Ia menjadi wazir untuk putra Hulagu yaitu Abaqa Khan.

Sepanjang kehidupannya, al-Tusi merupakan penulis yang produktif dalam bidang matematika dan ilmu alam. Ia membawa kemajuan di bidang matematika trigonometri dan astronomi. Hasil dari upaya kerasnya di bidang intelektual ini menunjukkan hasil dengan didirikannya observatorium di Maraghah. Hasil dari observasi dan perhitungan astronomis menghasilkan tabel yang terkenal yang dinamakan Zij-e Ilkhani (Dalam bahasa Persia, tapi juga diterjemahkan dalam bahasa Arab). Sebelum Maraghah, ilmu rasional telah diperoleh segelintir orang dengan atau tanpa perlindungan pribadi, sekolah-sekolah Islam mencurahkan hampir seluruh perhatiannya kepada hukum dan melepaskan diri dari aktivitas filsafat. Lingkungan obsevatorium dan pelembagaan ilmu rasional menciptakan kebutuhan akan materi pengajaran, dan al-Tusi sendiri menjadi penulis dari resensi (tahrir) teks ilmiah seperti halnya ringkasan dari teks teologi, logika dan filsafat, jelas dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pengajaran. Pengaruh al-Tusi yang terus bertahan dapat dilihat dari aktivitasnya yang berkelanjutan dalam ilmu rasional Islam Timur, seperti halnya dalam penyerapan yang terjadi secara bertahap ke dalam pendidikan religius, yang mana pada gilirannya mempengaruhi perkembangan teologi, secara khusus di antara para sarjana Si’ah.[3]

Pada tahun 1257 M. Nashr al Din al Thusi melakukan perjalanan ke Khurasan. Dalam perjalanan ini, bergabung pula seorang filosof terkemuka lainnya, Quthb al din al Sairozi. Berita terakhir tentang Nashr al Din al Thusi adalah mengenai ekspedisi perburuan Abaqa Khan. Setelah penobatan keduanya pada tahun 1270 M, Abaqa Khan terluka oleh seekor bison dalam suatu perburuan. Dibawah pengawasan Nashr al Din al Thusi, seorang dokter melakukan pembedahan atas Abaqa khan ini. Didalam perjalanan resmi terakhirnya ke Bagdad pada tahun 1273 M, Nashr al Din al Thusi jatuh sakit, kemudian pemimpin Mongol itu bersama Quthb al din al Sairozi mengunjunginya. Filosof tersebut meninggal karena sakit pada hari senin 18 Dzulhijah 672 H/25 Juni 1274 M. Kemudian dimakamkan didekat Musa al Khazhim, imam Syi’ah ketujuh.[4]

Beberapa karya tulis yang disebutkan dalam wikipedia antara lain: 
1. Tajrid-al-’Aqaid – Karya utama dalam ilmu Kalam (Filsafat Islam skolastik). 
2. Al-Tadhkirah fi’ilm al-hay’ah – Sebuah memoar di bidang Ilmu Astronomi. 
Banyak komentar yang ditulis tentang karya ini dalam “Sharh al-Tadhkirah” (Komentar terhadap al-Tadhkirah) – Komentar ditulis oleh Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi dan oleh Nazzam Nishapuri. 
3. Akhlaq-i-Nasiri – Karya di bidang etika. 
4. al-Risalah al-Asturlabiyah – Risalah tentang astrolabe. 
5. Zij-i ilkhani (Ilkhanic Tables) – Risalah astronomi yang utama, disempurnakan 
pada 1272 M. 
6. Sharh al-isharat (Komentar terhadap “Isharat” karya Avicenna)[5]

Etika 
Mengenai bidang etika ada beberapa karya besar Nashir ad-Din al-Tusi, yaitu Akhlaqi Muhtashami (Muhtashamean Ethics) dan Akhlaqi Nasiri (The Nasirean Ethics), keduanya ditulis dalam bahasa Persia. Kitab yang pertama diangkat dari aturan Isma’ili (Muhtasham) dari Quhistan. Nasir al-Din ‘Abd al-Rahman yang mempersiapkan garis besar dan menyetujui isi tetapi meminta al-Tusi mengerjakan pekerjaan utamanya karena tuntutan pekerjaannya di bidang politik. Kemudian karya selanjutnya adalah Kitab ‘Adab al-Muta’allimin, menurut al-Tusi, karya ini sangat perlu, karena banyak orang mendapat kesulitan dalam menuntut ilmu disebabkan kurang paham etika dan metode yang benar. Padahal bagi at-Tusi etika adalah prasyarat keberhasilan dalam menuntut ilmu. Karya lainnya di bidang etika sedikitnya ada empat risalah utama yang ditulis al-Tusi, dan kesemuanya menggambarkan karakter Ismailiyah.[6]

Dalam etikanya, at-Tusi mengatakan bahwa moral atau etika itu bertujuan mendapatkan kebahagiaan, dan hal itu ditentukan oleh tempat dan kedudukan manusia dalam evolusi kosmiknya serta diwujudkan lewat kesediannya pada disiplin dan patuh. Jadi, seorang bisa dikatakan beretika bila ia siap disiplin dan komitmen pada peraturan yang berlaku. Selain daripada itu beliau pula mengemukakan hal yang menyangkut penyakit moral seperti kebodohan, kejahatan, kemarahan, kepengecutan dan ketakutan yang semuanya berasal dari tiga: kekurangan, kelebihan dan ketidakwajaran akal. 

Menurut at-Tusi, kebodohan adalah penyakit moral yang fatal, beliau membagi kebodohan tersebut ke dalam tiga tingkatan. Pertama, kebingungan. Kebingungan disebabkan jika untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan karena adanya dua bukti dan dua argumen yang saling bertentangan, dalam hal ini at-Tusi menyarankan agar orang yang bingung itu disadarkan bahwa tidak ada dua realitas yang berlawanan terjadi pada satu kesempatan. Kedua, kebodohan sederhana. Jahal basit ini terjadi karena kekurangtahuan manusia akan sesuatu hal, mengira bahwa ia mengetahui, kebodohan ini merupakan suatu keadaan yang biasa dijadikan titik tolak untuk mencari pengetahuan, tetapi sangatlah fatal bila manusia merasa puas dengan keadaan begitu. Ketiga, jahal murakkab; kebodohan ini akibat kekurangtahuan manusia akan satu hal akan tetapi dia merasa bahwa dirinya mengetahui hal tersebut. 

Mengenai kemarahan, at-Tusi menganggap bahwa kemarahan, kepengecutan dan ketakutan adalah penyakit yang menonjol dari segi berlebihan. Begitu pula keberlebihan nafsu disebabkan oleh keberlebihan hasrat, sedangkan sifat sembrono merupakan akibat kekurangan, dan kesedihan serta cemburu itu merupakan ketidakwajaran kekuatan. Thusi telah mendefinisikan cemburu sebagai keinginan akan kebalikan nasib baik orang lain tanpa ingin memiliki nasib baik tersebut pada dirinya. Hal itu mengikuti definisi yang dilontarkan al-Ghazali yang membedakan antara cemburu dengan iri. Thusi menganggap masyarakat sebagai latar belakang moral dari kehidupan, sebab manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial dan kesempurnaannya terletak pada tindak-tanduk dan patuh yang menunjukkan sifat sosial pada sesamanya.[7]

al-Tusi menggolongkan etika menjadi dua bagian: “prinsip-prinsip” dan “tujuan-tujuan” bagian pertama dibagi menjadi tujuh bab. Subjek etika adalah jiwa manusia karena ia merupakan sumber perbuatan baik dan jahat. “jiwa manusia adalah substansi abstrak dari esensi yang melahirkan konsepsi tentang ma’qulat (intelligibles). Ia memberikan argument cermat untuk membuktikan eksistensi jiwa, substansialitas, ia bukan raga atau bersifat fisik. Jiwa memahami melalui esensinya dan bertindak melalui alat-alatnya, dan ahirnya jiwa tidak saja di cerap melalui persepsi indrawi mana pun. Jiwa manusia yang disebut “jiwa rasional” tetap hidup meskipun raga sudah mati. Sesungguhnya raga adalah alat bagi jiwa dan bukan tempat atau ruang jiwa yang dipahami sebagian orang.
Jiwa terbagi menjadi tiga: tumbuhan, hewan, dan manusia, yang masing-masing mempunyai daya. Hanya manusialah yang mempunyai daya rasional. Manusia adalah mahluk yang paling mulia, tahap tertinggi dari keseluruhan tahap perjalanan jiwa dari jiwa tumbuhan dan hewan. Nabi dan wali adala manusia yang paling mulia. Manusia secara potensial bisa mencapai kesempurnaan atau jatuh dalam kehinaan. Ada dua jenis kesempurnaan, dari segi pengetahuan maupun perbuatan. Tujuan akhir pengetahuan adal kedamain dan kepastian dalam “tauhid’. Tujuan puncak perbuatan manusia adalah mencapai keselarasan dan keseimbangan dalam urusan individu dan komunal., kesempurnaan dalama pengetahuan dan perbuatan secara dialektis saling terkait dan bergantung satu sama lain. Setelah menguasai dua sisi ini, manuisa menjadi khalifah (wakil tuhan yang sebenarnya diatas bumi). al-Tusi melancarkan seranag sengit atas orang-orang yang tujuan hidupnya adalah untuk mengejar kenikmatan material, dengan memfungsiakn daya berfikir dan akal untuk memfasilitasi kenikmatan fisik itu. Mereka menundukan jiwa yang luhur. 

Namun, dari sudut pandang lain, jiwa dibagi menjadi tiga: “jiwa binatang” yang merupakaan jiwa terendah., “jiwa biadab” yang merupakan maqam, “jiwa malaikat” yang merupakan jiwa terluhur. Jiwa ini terdapat pada diri manusia secara serentak. al-Tusi menyinggung tiga jiwa ini sesuai tiga istilah dalam al-Qur’an. Pertama sesuai dengan Nafsu amarah atau jiwa syahwat, kedua sesuai dengan nafsu lawwamah atau jiwa yang pencela, dan ketiga sesuai denag nafsu muthmainnah atau jiwa yang tenang. 
“jiwa syahwat mendorong dan mendesak pada pemenuhan keinginan, jiwa pencela, setelah menyembunyikan sesuatu yang tak terelakan sebagai kekuranagn manusia, mencela melalui omelan dan teguran, perbuatan itu sebagai sesuatu yang tak bernilai dimata kebijaksanaan, dan mengenai jiwa yang tenang, ia tidak menghasilkan apa-apa, kecuali amalan yang elok dan perbuatan yang baik.[8]

Risalah tentang etika ini, al-Tusi membahas ‘tujuan-tujuan” cabang filsafat ini. Ia percaya bahwa akhlak “individu” dapat diubah, bahwa manusia melalui pendidikan dapat berubah. Namun, tindakan untuk mengubah akhlak seseorang adalah suatu seni, dan dalam pengertian itulah ia merupakan seni paling mulia. Pada dasarnya ada tiga jenis kebajikan yang dapat dicapai manusia, yang masing-masing berhubungan dengan satu dan tiga jiwa manuisa diatas.[9]

Metafiska 
Pada karangan Nashr al Din al Thusi yakni akhlaqi Nashiri adalah pembahasan standar mengenai pembagian filsafat yang semula diadopsi para filosof muslim dari Aristoteles. Hikmah atau filsafat adalah mengetahui sesuatu sebagaimana adanya dan bertindak sebagaimana mestinya. Sedangkan tujuan filsafat adalah membantu seseorang me capai ideal-ideal tertinggi manusia. Oleh karena itu filsafat dibagi menjadi dua bagian: pengetahuan dan tindakan. Pengetahuan adalah kemampuan untuk memahami (thasawur) sesuatu sebagaimana adanya dan kemudian membenarkan (thasdiq) sesuai dengan prinsip-prinsip keberadaannya. Tindakan adalah perwujudan gerak dan penguasaan ilmu sehingga yang potensial menjadi actual. Nashr al Din al Thusi menempatkan penguasaan pengetahuan teoritis maupun praktis pada kemampuan fisik manusia. Siapa saja yang mencapai kesempurnaan dalam pengetahuan dan perbuatan, maka ia akan mencapai karakter yang mulia.[10]

Karena objek filsafat terdiri dari pengetahuan mengenai segala sesuatu yang ada, ia dibagi menjadi dua kategori yang didasarkan pada sifat dasar sesuatu sebagaimana adanya. Hal-hal yang mewujudkan terdiri dari dua jenis: pertama, hal-hal yang tereksistensinya tidak bergantung pada tindakan kita, dan dua, hak-hal yang eksistensinya bergantung pada tindakan kita. Filsafat teoritis menjadikan kategori maujud yang pertama sebagai objeknya dan filsafat praktis menjadikan kategori maujaud yang kedua sebagai objeknya.
Selanjutnya, filsafat teoritis menjadi dua kategori: pertama, pengetahuan tentang eksistensinya dan konsepsi tentangnya tak terkait dan tak tergantung pada materi, kedua, mengetahuai yang sesuatu eksistensinya bergantung pada materi. Kategori yang terahir ini dibagi menjadi dua bagian: pertama mengetahui tentang sesuatu yang kebergantungannya pada materi tidak bersifatesensial bagi konsepsinya dan, kedua, mengetahui tentang sesuatu kebergantungannya pada materi bersifat esensial. Akibatnya, sifat teoritis dibagi menjadi tiga kategori: Metafisika, matematika dan ilmu-ilmu alam. Pada gilirannya, tiap kategori ini dibagi menjadi beberapa bagian pokok dan cabang.
Kategori pertama bersifat teoritis, metafisika, terdiri dari: pertama, mengetahu tentang tuhan yang maha kuasa dan mengetahui tentang wujud-wujudnya yang karena kedekatannya dengan hadiratnya yang menyebabkan wujud lain menjadi ada, seperti intelek dan akal, jiwa-jiwa dan prinsip-prinsip yang mengatur perbuatan mereka. Pengetahuan ini disebut teologi. Kedua, pengetahuan tentang prinsip-prinsip umum yang mengatur wujud-wujud yang ada sebagiaman adanya, seperti keesaan, kemajemukan, keniscayaan, kemungkinan, ketertiban, keazalian dan sebagainya.pengetahuan ini disebut filsafat pertama.[11]

Ontologi Nashr al Din al Thusi termasuk dalam tradisi Ibnu Sina klasik. ‘Wujud’ itu sangat universal sehingga tidak butuh pembuktian. Setiap ‘wujud’ boleh jadi ’niscaya’ (wajib) atau ‘mungkin’. Jika suatu wujud itu ‘niscaya’, ia tak mungkin (mustahil) tidak ada. Wujud yang keberadaannya ’niscaya’, disebut wujud niscaya (wajib al wujud) apabila suatu wujud itu ‘mungkin’ atau ‘bergantung’ agar ia menjadi ada (atau mengada), maka ia harus didasarkan atas tau bergantung pada sesuatu yang lain, dan ‘ Sesutu yang lain’ itu pada gilirannya bisa jadi ‘ wujud niscaya atau ‘ wujud mungkin’ laninnya. Jadi teologi Nashr al Din al Thusi berasal dari ontologinya seperti halnya ontologinya Ibnu Sina: mustahil wujud-wujud duniawiyah menjadi ‘wujud niscaya’, karena wujud wujud itu bisa jadi ‘aksiden-aksiden’ atau ‘subtansi-substansi’, pada hakikatnya ‘aksiden-aksiden ‘ iti bergantung pada Sesuatu bergantung pada yang lain, yaitu substansi, dan subtansi itu mungkin bersifat jasmaniyah, dan karena itu tersusun dapat rusak, atau mungkin bebas dari materi atau abstrak, dan siapa pun yang percaya pada hal-hal non-material, baik secara intlektual maupun secara sepiritual maka tak sulit baginya pada wujud wujud non-material seperti ‘wujud niscaya’.

Ketahuilah bahwa orang orang berilmu berbeda pendapat tentang apakah non wujud itu Sesutu ataukah bukan sesuatu. Non-wujud yang mereka maksudkan adalah wujud-mungkin (jaiz al wujud). Kaum Nafiyan berpendapat non-wujud itu bukan sesuatu. mereka tidak membedakan Jaiz al Wujud dengan mustahil al wujud. mereka menganggap kedua kedua nya sebagai non-wujud. Kedua kelompok itu tidak sependapat dalam hal-hal lainnya: kaum musbitan percaya suatu sifat yang bukan wujud dan bukan pula non-wujud. Kaum musbitan memandang non-wujud dalam setatus ketakwujudannya disifati oleh suatu sifat. Dilain pihak, kaum nafiyan menganggap segala sesuatu sebagai esensi (dzat-nya), mereka tidak membedakan antara subut dan wujud. Jadi kaum musbitan menganggap semua esensi-baik substansi maupun eksiden-itu ada secara azali, yang disifati dengan sifat-sifat jenus, misalnya substansi dengan watak substansinya, hitam dengan warna hitamnya, walaupun belum maujud. Kaum musbitan menganggap bahwa wujud adalah suatu disposisi/tempelan, maksudnya, ia bukan wujud dan bukan maujud. Jadi, sang pelaku, yang maha besar dan maha kuasalah yang ada, yang menyifati esensi-esensi dengan wujud, dan itulah makna menjadikan-ada dan menjadikan-mengada. Bagi kaum nafiyan, tidak ada yang tetap secara azali, kecuali tuhan. Dia menciptakan semua esensi dan sifat, dan bahwa makna menjadikan-substansi-ada adalah menyebabkan substansi menjadi ada setelah sebelumnya tidak ada. [12]

Nashr al Din al Thusi diriwayat pada keniscayaan pembuktian (dalil) rasional mengenai eksistensi Tuhan untuk setiap orang beriman, sampai ia berjumpa seorang petani bersahaja. ‘apakah tuhan itu satu atau dua?’. ‘hanya satu,’ jawab petani’. ‘apa sikap anda jika seseorang berkata kepada anda jika tuhan itu dua ?’. ‘akan aku pecahkan kepalanya dengan sekop ditangan ku ini,’ jawab petani. 

Asal muasal pertama adalah sesuatu yang tidak ada yang mendahuluinya dan tidak mempunyai asal. Asal muasal pertama mystahil lebih dari satu karena segala yang bukan satu berarti banyak, dan segala yang banyak tentu terdiri dari unit-unit individual, dan tiap tiap satu dari unit-unit itu tentu mendahului wujud yang tersusun itu sehingga ia menjadi asal bagi wujud tersusun itu. Jadi, asal muasal pertama itu satu dan bukan banyak. Oleh karena itu dari perluasan dan pengembangan ontologi Nashr al Din al Thusi ke teologinya disimpulkan bahwa niscaya dan wajib bagi asal muasal pertama itu sebagai ’wujud niscaya’ (wajib al wujud). Ketika sesuatu itu ada, maka niscaya bagi mereka ada dalam wujud. 

Apabila mereka tidak ada dalam wujud, segala sesuatu akan selalu ada dalam keadaan kebergantungan atau kemungkinan, artinya membutuhkan asal muasal. Dalam rentetan sebab-akibat ini guna menghindari terjadinya lingkaran setan, maka dibutuhkan satu realitas yang menjadi sebab bagi semua akibat yang ada sebelum semua akibat ada asal pertamalah yang tidak mempunyai asal. Semua yang ada muncul dari asal muasal tersebut. Akhirnya Nashr al Din al Thusi menyimpulkan bahwa inilah yang kami maksudkan dengan upaya membuktikan ’ satu yang hakiki’ yang merupakan asal muasal pertama bagi semua yang ada, yang maha agung wujudnya dan maha suci dzat dan sifatnya. [13]

Pada sebuah Risalahnya Nashr al Din al Thusi tentang dogma-dogma keyakinan utama Syi’ah rangkuman ringkas tentang apa yang harus dipegang dengan pasti oleh jkaum mukmin menurut filosof syi’ah itu, seorang mukmi syi’ah paling tidak harus menjungjung tinggi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulnya, menerima sifat-sifat Tuhan yang maha kuasa dan harus percaya pada hari akhir, dan percaya pada imam yang maksum. 

Kesimpulan 
Tidak mungkin disini kita melebih-lebihkan pada Nashr al Din al Thusi dan filsafat islam abad pertengahan. Bahkan, seandainya ia tidak mendirikan observatorium maraghah sebagai lembaga pendidikan tinggi yang penting sehingga dapat mengumpulkan sehimpunan besar filosof dan ilmuan terkemuka. Atau seandainya dia tidak mengabdi kepada penguasa filosof dari wazir dan memanfaatkan jabatan itu untuk mengembangkan dasar-dasar ilmu dan fisafat ditengah lingkungan yang tidak kondusif, dan kalaupun dia tidak menulis begitu banyak karya dalam bahasa Persia sehingga memberikan kontribiusi penting dalam menjadaikan bahasa ini sebagai medium terpenting. Kedua dalam penyelidikan ilmiah dan filosof dalam sejarah intelektual islam.

Diskursus filosof/wazir itu memberikan etika unik yang menuntut ketaatan, baik dari figure otoritas politik maupun religious. Kepada sang penglima perang, filosof atau wazir ini berbicara dari sudut pandang filosof muslim kepada otoritas religious, tempatnya ‘ulama, filosof ini berbicara dengan nada dan otoritas penguasa, intelek politik yang sanagt dekat dengan pusat kekerasan/kekejaman, panglima perang yang tangkas dengan tangannya memainkan pedang, filosof/wazir, denag Nashr al Din al Thusi sebagi contoh pertamanya, menduduki posisi sentral dalam (1) perintah ketaatan dalam budaya poitik islam Persia, (2) sanagat berperan dalam menciptakan prasyarat material bagi pertumbuhan dan perkembangan filsafat.[14]

Demikian uraian singkat tentang Nashr al-Din al-Thusi, semoga bermanfaat…Amiin. 

Daftar Pustaka 
Jamil Ahmad. 100 Muslim Terkemuka, terjemahan dari “Hundred Hreat Muslim” Jakarta: Pustaka Firdaus. 1994 
Nasution Hasymsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1999 
Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi Tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka, Cet. I 2003 
________________
[1] Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka cet. I 2003.
[2] Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka, Cet. I 2003. Hal. 768 
[3] Nasution Hasymsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1999. Hal 130 
[4] Ibid. Hal. 771 
[6] Jamil Ahmad. 100 Muslim Terkemuka, terjemahan dari “Hundred Hreat Muslim” Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994. Hal. 167 
[7] http://zbendot.blogspot.com/2012/05/filsafat-nashiruddin-at-thusi.html 
[8] Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka, Cet. I 2003 Hal. 817 
[9] Ibid. Hal. 818 
[10] Ibid. Hal. 813 
[11] Ibid. Hal. 814 
[12] Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka. Cet. I 2003.Hal.801 
[13] Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka. Cet. I 2003.Hal. 804 
[14] Sayid Husain Nasr dan Olifer Leaman. Ensiklopedi tematis filsafat Islam. Bandung: Mizan Pustaka, Cet. I 2003 Hal. 838

Rasionalisme Kritis Karl R. Popper


Pada pertemuan kali ini kita akan membahas:
Karl Raimund Popper,
dia berpendapat bahwa, sebenarnya sebesar apapun fakta yang ditemukan/tersedia secara logis tidak dapat disimpulkan suatu kebenaran umumnya. Contoh : Angsa warnanya putih.

Yang terpenting dari poin tesebut adalah untuk kemajuan Ilmu Pengetahuan, perlu kritik. Meski baru hipotesa (ada kemungkinan angsa warna lain). maka jangan bernalar induktif yang menganggap sama sesuatu, yang masih ada kemungkinan beda. Selamat menyimak…!!!

Riwayat Hidup
Karl Raimund Popper lahir di Wina tanggal 28 Juli 1902. Ayahnya Dr. Simon Siegmund Carl Popper adalah seorang pengacara yang sangat berminat pada filsafat. Maka tidak mengherankan bila ia begitu tertarik dengan dunia filsafat, karena ayahnya telah mengkoleksi buku-buku karya filusuf-filusuf ternama.

Pada usia 16 tahun ia keluar dari sekolahnya, Realgymnasium, dengan alasan Ia bosan dengan pelajaran disana maka ia menjadi pendengar bebas di Universitas Wina dan baru pada tahun 1922 ia diterima sebagai mahasiswa disana.

Setelah perang dunia I dimana begitu banyak penindasan dan pembunuhan maka Popper terdorong untuk menulis sebuah karangan tentang kebebasan. Dan diusia 17 tahun ia menjadi anti Marxis karena kekecewaannya pada pendapat yang menghalalkan “segala cara” dalam melakukan revolusi termasuk pengorbanan jiwa. Dimana pada saat itu terjadi pembantaian pemuda yang beraliran sosialis dan komunis dan banyak dari teman-temannya yang terbunuh. Dan sejak saat itu ia menarik suatu kebijaksanaan yang diungkapkan oleh Socrates yaitu “Saya tahu bahwa saya tidak tahu”, dan dari sini ia menyadari dengan sungguh-sungguh perbedaan antara pemikiran dogmatis dan kritis.[1]

Dimana Popper terkesan dengan ungkapan Einstein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalm tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum Marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya.

Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yangcrucial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.

Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemologi, dan sampai pada bukunya yang berjudul Logik der Forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul The Open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini Popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik – kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri.[2]

Dari sini Popper menarik kesimpulan bahwa menghadapkan teori-teori pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya adalan satu-satunya cara yang tepat untuk mengujinya dan juga satu-satunya cara yang menungkinkan ilmu pengetahuan bisa berkembang terus menerus. Dan dengan adanya kemungkinan untuk menguji teori tentang ketidakbenarannya berarti teori itu terbuka untuk di kritik dan ia memunculkan apa yang dinamakan Rasionalisme kritis. Demikianlah sekelumit kehidupan Karl Raimund Popper yang mengakhiri hidupnya pada tahun 1994.

Dasar-dasar Pemikiran Popper
1. Asas Falsifiabilitas
Menurut Popper teori yang melatar belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang secermat-cermatnya agar diketahuan ketidakbenarannya.

Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.

Keterbukaan untuk diuji atau falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.

2. Kritik Popper terhadap Positivisme Logis
Popper, dengan demikian, ingin menyelamatkan rasionalisme tetapi dengan catatan. Rasionalisme Popper dikenal dengan rasionalisme kritis. Proyek Popper ini terutama ditujukkan untuk membantah kaum positivisme logis yang berbasis di Wina, Austria dikenal sebagai Lingkaran Wina. Salah satu proyek mereka adalah hendak memisahkan mana ungkapan yang bermakna dan ungkapan yang tidak bermakna. Ungkapan ini bisa ditemukan dalam bahasa sebagai objektifikasi pikiran manusia. Menurut kaum postivisme logis, pemisahan itu ditentukan oleh sejauh mana ungkapan-ungkapan itu bisa ditangkap oleh inderawi atau tidak.

Ungkapan yang tidak bisa ditangkap inderawi berarti tidak bermakna. Sebaliknya, ungkapan yang bisa ditangkap oleh inderawi adalah yang bermakna. Ungkapan yang bermakna inilah, yang hanya bisa diverifikasi secara empiris, yang dianggap oleh kaum positivisme logis sebagai pengetahuan.[3]

Popper menyangkal pandangan kaum positivisme logis tersebut. Dalam pemahamannya manusia tidak mungkin mengetahui semesta pengetahuan hanya dengan mengandalkan verifikasi empiris. Popper memberi contoh kasus angsa putih dan angsa hitam. Orang Eropa selama ratusan atau mungkin ribuan tahun percaya bahwa semua angsa adalah putih karena memang sejauh itu tidak ditemukan angsa selain angsa putih. Keyakinan ini goyah dan kemudian runtuh ketika para pelancong Eropa menemukan angsa hitam di Sungai Victoria di Australia pada pertengahan abad ke-17. Dengan penemuan itu keyakinan orang Eropa terbukti salah. Contoh serupa bisa ditemukan dalam semua hal yang ada di ‘dunia objektif’. Oleh karena itu, bagi Popper, teori pengetahuan selalu bersifat hipotesis dan yang bisa di kritisi dan bahkan disalahkan.

Penutup
Bagi Popper, ilmu dan filsafat menjadi menarik karena ia ingin mempelajari sesuatu tentang teka-teki dunia tempat kita hidup, dan teka-teki pengetahuan manusia mengenai dunia itu. Dia percaya bahwa hanya dengan penghidupan kembali minat pada teka-teki inilah yang dapat menyelamatkan ilmu-ilmu dan filsafat dari spesialisasi sempit dan dari keyakinan serta pada keahlian khusus sang pakar dalam pengetahuan dan otoritas pribadinya.

Daftar Pustaka
Karl R. Popper. Gagalnya Historisisme, terj. Nena Suprapto Jakarta: LP3ES, 1985
Taryadi, Alfons. Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper. Jakarta: Gramedia. 1991
http:// staff.blog.ui.edu/ arif51/ 2008/03 /31/ karl-raimund-popper/.
_____________

[1] http:// staff.blog.ui.edu/ arif51/ 2008/03 /31/ karl-raimund-popper/.
[2] Karl R. Popper. Gagalnya Historisisme, terj. Nena Suprapto (Jakarta: LP3ES, 1985).
[3] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm. 18.

Estetika Pada Masa Klasik


Estetika Pada Masa Klasik

Estetika baru muncul pada abad (18) kedelapan belas, dan sejarah yang mengenai hal-hal yang mengacu pada estetika adalah setua sejarah etika, logika, metafisika, dan epistemology. Filusuf Alexander Baumgarten-lah yang memperkenalkannya di tahun 1750, tapi perintis pertamanya adalah sokrates (469-344 SM).[1]

Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni, dan pengalaman seni, yakni penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni.

pemikiran tokoh-tokoh estetika pada masa Yunani klasik, tokoh-tokoh yang di bahas adalah mulai dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

Yang menarik dari tokoh-tokoh estetika ini adalah perbedaan sudut pandang dan perspektif yang mencolok dari setiap pemikir. Ada yang terfokus pada dunia Idea (Plato), dan ada yang terarah pada pengalaman dunia fisik (Aristoteles). 

Jika istilah estetika diartikan filsafat keindahan, maka sejarah estetika berarti sejarah filsafat keindahan. Kalau kita mencoba memberikan gambaran sejarah filsafat seni dengan perumpamaan pohon filsafat, sebagaimana dikerjakan oleh Descrates dalam bukunya Principia Philoshopine, maka kita harus menganggap filsafat Plato sebagai batang dari segala akar estetika. 

Ketiga orang besar diantara ahli filsafat yunani yang meletakan fondamen pertama tentang estetika yaitu Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah perintis, Aristoteles adalah penerus Plato yang terkenal dengan Dewa Estetika.

1. Estetika Sokrates
Fondamen Sokrates yang meletakkan batu pertama dari estetika (sebelum nama ini diberi nama). Dalam perdebatan antara sokrates dan Happias sokrates meminta ide keindahan “gagasan umum” yang menyebutkan semua barang indah menjadi indah, Sokrates tidak menanyakan apa yang bersifat indah.[2]

Happias menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat mengartikan sama cantiknya seperti benda dan gadis dara. Sokrates member bumbu kepada perkataan Happias: “memang Heraklatus pernah mengatakan bahwa kera yang tercantik, jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga dengan gadis cantik, bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari sorga, sebagaimana orang yang paling arif bijaksan 

apabila dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tanpak kera dalam segala hal. Akan tetapi kita kembali kepada: What the beautiful is.[3]

Walaupun catatan yang diberikan oleh sokrates tidak sistematis, estetika telah lahir ketika sokrates dapat menjawab pertanyaan Happias, dengan perkataan kecantikan bukanlah sifat tertentu dari seribu barang, tetapi dibelakang semua itu terdapat kecantikan itu tersendiri.


2. Estetika Plato
Plato adalah filusuf pertama didunia barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan pandangan yang meliputi hamper semua pokok semua estetika. Pembahasannya tidak utuh dan merupakan suatu system tersendiri, tetapi tersebar sebar dalam karyanya. Berikut ini kita mengumpulkan dan menyingkatkan pandangannya keindahan dan karya seni. 

a). Keindahan 

Plato berpendapat bahwa untuk mengetahui keindahan sesungguhnya, kita terlebih dahulu mengosongkan pikiran dan membersihkan diri dari segala kesalahan dan kekurangan. Kita harus membuang kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan mencoba kembali kedalam kesucian jiwa kita. 

Keindahan dapat dibagi menjadi dua yang pertama tentang dunia idea, dan kedua dunia yang nyata. Pandangan yang pertama, secara mengesankan dan dengan bahasa yang sangat indah, ia kemukakan dalam wawancara semposium sebagi pendirian Socrates. Socrates mengatakan bahwa ajaran itu diterima dari seorang dewata bernama Diotima yang berasal dari Mantineia (dalam terjemahan inggris nama dewata itu adalah “fear the lord from prophetveille”, sesuai dengan sindiran yang termuat dalam bahasa yunani). Menurut pandangan itu, yang indah adalah benda yang material, umpamanya tubuh manusia, yang tampak pada saya. Kalau selanjutnya saya melihat beberapa orang seperti itu, pengalaman akan keindahan meningkat. Lebih jauh lagi manusia merasa diajak untuk ingat pada yang lebih indah daripada tubuh, yaitu jiwa lama kelamaan, socrtaes mengajak pendengar untuk maju terus sampai pada idea yang indah. Itulah yang paling indah, sumber segala keindahan. Semua keindahan lain haknya ikut ambil pada yang indah dalam dunia idea itu, sama halnya seperti idea kebenaran, kebaikan, ataupun segitiga.[4]

Pandangan plato yang pertama didasarkan pada ajaran tentang idea ini, yakni “teori dua dunia”. Dua dunia tersebut adalah ‘dunia idea’ (dunia atas) dan “dunia sehari-hari” (dunia bawah). Menurut plato dunia bawah merupakan tiruan dari dunia atas. Dunia atas digambarkan sebagai dunia idea, yaitu: dunia kebenaran absolute, sejati, dunia rohani, pengetahuan sejati (episteme). Sedangkan dunia bawah adalah dunia yang relative, sehari-hari, fana, kebenaran relative, tiruan, dan hanya merupakan ‘pendapat’. Pandangan kedua, dikemukakan plato dalam salah satu dialognya yang terkenal, yakni phiilebus. Disini dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan yang lebih sederhana lagi. Pada pandangan pertama, yang indah itu dilepaskan dari pengalaman jasmani. Keindahan dalam pengertian hidup sehari-hari adalah tingkat dua saja. Keindahan sesungguhnya hanya ada di dunia idea, sedangkan pandanagn plato yang kedua, yang indah itu tidak dilepaskan dari pengalaman inderawi yang membangun pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 

Pandangan yang kedua ada dalam Philebus. Disana dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang paling sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan ‘sederhana’ ialah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi. Oleh karena itu keindahan bersifat terpilah-pilah baik dalam alam maupun dalam karya seni.[5]

Pandangan plato yang kedua ini mempunyai keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsure konstitutif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 

Bagaimana hubungan antara dunia atas dan dunia bawah? Menurut plato, antara dunia atas dan bawah terdapat hubungan timbal balik. Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui tiga kata kunci: 

1). Paradigma: dunia atas menjadi contoh, prototype, pola, bagi dunia bawah. 

2). Hadir pada: dunia atas selalu hadir pada (presence) dunia bawah. 

3). Partisipasi: dunia bawah mengambil bagian (berpartisipasi) di dunia atas.[6]

b). Karya Seni. 

Plato menyatakan sikapnya terhadap karya seni, terutama dalam karyanya yang terbesar yaitu politea (republik). Dalam penilaiannya ada dua unsur: yang satu teoritis dan kedua praktis. 

Unsur teoritis menyatakan bahwa: segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan tiruan (mimesis) dari yang asli yang terdapat di dunia idea dan jauh lebih unggul daripada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari (mimesis memeseos). Oleh karena itu plato menilai rendah karya seni. Tafsiran plato tentang karya seni sebgai tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini tidak hanya jauh dari pandanagn karya seni dewasa ini, tetapi sudah pada jaman plato dan dalam karyanya sendiri mengalami kesulitan, mungkin karya seni rupa dan sebagian karya sastra, bisa ditafsirkan sebagai tiruan dari kenyataan, tetapi karya seni music amat sulit di tafsirkan.[7]

Jadi menurut plato, karya seni adalah tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini (kecuali music), jadi jauh dari kebenaran sejati. Itulah sebabnya kemapa ia menyebut karya seni sebagai tiruan dari (mimesis memeseos). Plato memiliki dua kebertan terhadap karya seni. Pertama, karena karya seni menirukan sesuatu di dunia ini, yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia idea. Jadi, karya seni adalah tiruan dari tiruan artinya tiruan dua tingkat. Itulah sebabnya mengapa menurut Plato, seni tidak baik untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan. 

Bagi plato, hanya filsafatlah yang pantas menjadi sumber pengetahuan, kebijakan dan moral. 

Keberatan plato terhadap seni terkait dengan pengaruh buruk seni terhadap masarakat. Seni memberi pengaruh bagi penonton dan masarakat. Mengapa? Karena, hakikat seni bersifat emosional. Plato menantang karya sastra dan drama, karena dalam drama banyak terdapat adegan adegan yang kurang baik dipertontonkan dan akan menjauhkan warga Negara dari tugasnya membangun Negara. Baginya, pusi itu prosesnya irasional dan kurang control terhadap akal, sehingga akan member pengaruh buruk pada penontonnya.[8]


3. Estetika Aristoteles 

Sebagai murid plato, Aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan ajaran sang guru, tetapi sudut pandangnya berbeda. Mengapa? Karena Aristoteles menolak dunia idea Plato sebagai sumber pengetahuan. Sumbangan utama Aristoteles bagi estetika diuraikan dalam buku Poetika (poetics). 

a). Keindahan 

Pandangan Aristoteles tentang keindahan agak dekat dengan pandangan kedua dari plato: keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran material. Pandangan ini, menurut Aristoteles menyangkut benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia.[9]

b). Karya Seni. 

Pandangan Aristoteles tentang ini mirip dengan Plato: karya seni adalah sebuah tiruan (imitasi), yakni tiruan dari dunia alamiah dan dunia manusia. Bagi Aristoteles, seni tidak hanya tiruan dari benda yang ada dari alam, tetapi lebih sebagai tieuan dari sesuatu yang universal. Aristoteles tidak setuju dengan penilaian negative Plato atas karya seni, karena dia berpendapat bahwa bentuk-bentuk (form) tidak terpisah dari dunia inderawi, karenanya dia tidak memiliki keberatan terhadap dunia inderawi dan seni yang meniru dunia inderawi. Maksud ini sudah jelas, karena pertam-tama minat aristoteles bukan seni rupa melainkan seni drama dan musik.[10]

Aristoteles cukup panjang lebar memeriksa dan memerinci segala syarat yang harus dipenuhi agar suatu tragedi menjadi karya seni yang sempurna. Yang sangat diperhatikan adalah pandangan pokok Aristoteles yang mendasari syarat-syarat itu, yaitu pandangannya tentang “khatarsis” artinya pemurnian, yang diasalkan dari kata “khatarus” artinya murni atau bersih. Menurut Aristoteles, khatarsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Segala peristiwa, pertemuan, wawancara, keberhasilan, dan kegagalan serta kekecewaan harus di susun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak logis, tetapi juga seolah-olah tak terduga. Pada saat itulah khatarsis terjadi secara tiba-tiba: seakan-akan segala masalah dan kejadian yang muncul bertimbun dalam peran-peran utama dan dalam diri penonton tiba-tiba pecah atau mencair, tak jarang in terjadi secara mengharukan.[11]

Teori khatarsis Aristoteles ini sangat berpengaruh dalam filsafat seni, terutama dalam teori drama. Biasanya khatarsis diharapkan terjadi pada diri penonton dan kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam tentang manusia, sebagai pembebasan batin sebagai pengalaman penderitaan. Dengan demikian, khatarsis ini memiliki makna “terapeutik”, bahkan sering sekali terdapat unsure penyesalan dan perubahan, semacam pencerahan atau pertobatan dalam pengalaman religius.[12]

Kesimpulan 

Keindahan merupakan jalan menuju kontemplasi. Pandangan ini Nampak dalam pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles. Keindahan itu sendiri di anggap ada di luar dan subyek, biasanya dengan penekanan bahwa keindahan itu ada di “seberang’. 

Perhatian akan apa yang secara empiris terjadi didalam diri si subyek termuat dalam pandangan Aristoteles, yang kedua-duanya menyajikan penyelidikan terhadap pengalaman manusia secara aposteriori-empiris. 

Daftar Pustaka 
Eaton, Marcia Muelder, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, Jakarta:Salemba Humanika, 2010. 
Kartika, Dharsono Sony, Nanang Ganda Prawira, Pengantar Estetika, Bandung: Rekayasa Sains, 2004. 
Ali Mathius. Estetika Pengantar Filasafat Seni. Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011 
Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius, 1993. 
___________________
[1] Eaton, Marcia Muelder, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010). hlm. 5 
[2] Kartika, Dharsono Sony, Nanang Ganda Prawira, Pengantar Estetika, (Bandung: Rekayasa Sains, 2004). hlm. 49 
[3] Ibid., hlm. 50 
[4] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 26 
[5] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 26 
[6] Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 15 
[7] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 27 
[8] Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 16 
[9] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 28 
[10] Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 24 
[11] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 29 
[12]Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 27