Waduk Malahayu Brebes

Waduk Malahayu terletak di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes,Jawa Tengah; ± 6 km dari Banjarharjo atau 17 km dari Tanjung. Luas kawasan ini sekitar 944 hektare dan dibangun pada tahun 1930 oleh Kolonial Belanda.

Waduk Penjalin Brebes

Waduk Penjalin adalah sebuah bendungan yang dibangun tahun 1930 semasa penjajahan Belanda bersamaan dengan Waduk Malahayu di Brebes Bagian Utara.

Perkebunan Teh Kaligua

Perkebunan teh Kaligua merupakan kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah Brebes bagian Selatan.

Masjid Agung Kota Brebes

Masjid Agung Brebes merupakan salah satu bangunan masjid tertua di wilayah pantura Kabupaten Brebes yang didirikan tahun 1836 masa pemerintahan Bupati Raden Adipati Ariya Singasari Panatayuda I (Kyai Sura) yang bangunan aslinya berarsitek jawa kuno, dengan kubah berbentuk limas.

Bung Karno

Berteriak adalah “hobi” Sukarno. Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung.

Sabtu, 10 November 2012

Rasionalisme Kritis Karl R. Popper


Pada pertemuan kali ini kita akan membahas:
Karl Raimund Popper,
dia berpendapat bahwa, sebenarnya sebesar apapun fakta yang ditemukan/tersedia secara logis tidak dapat disimpulkan suatu kebenaran umumnya. Contoh : Angsa warnanya putih.

Yang terpenting dari poin tesebut adalah untuk kemajuan Ilmu Pengetahuan, perlu kritik. Meski baru hipotesa (ada kemungkinan angsa warna lain). maka jangan bernalar induktif yang menganggap sama sesuatu, yang masih ada kemungkinan beda. Selamat menyimak…!!!

Riwayat Hidup
Karl Raimund Popper lahir di Wina tanggal 28 Juli 1902. Ayahnya Dr. Simon Siegmund Carl Popper adalah seorang pengacara yang sangat berminat pada filsafat. Maka tidak mengherankan bila ia begitu tertarik dengan dunia filsafat, karena ayahnya telah mengkoleksi buku-buku karya filusuf-filusuf ternama.

Pada usia 16 tahun ia keluar dari sekolahnya, Realgymnasium, dengan alasan Ia bosan dengan pelajaran disana maka ia menjadi pendengar bebas di Universitas Wina dan baru pada tahun 1922 ia diterima sebagai mahasiswa disana.

Setelah perang dunia I dimana begitu banyak penindasan dan pembunuhan maka Popper terdorong untuk menulis sebuah karangan tentang kebebasan. Dan diusia 17 tahun ia menjadi anti Marxis karena kekecewaannya pada pendapat yang menghalalkan “segala cara” dalam melakukan revolusi termasuk pengorbanan jiwa. Dimana pada saat itu terjadi pembantaian pemuda yang beraliran sosialis dan komunis dan banyak dari teman-temannya yang terbunuh. Dan sejak saat itu ia menarik suatu kebijaksanaan yang diungkapkan oleh Socrates yaitu “Saya tahu bahwa saya tidak tahu”, dan dari sini ia menyadari dengan sungguh-sungguh perbedaan antara pemikiran dogmatis dan kritis.[1]

Dimana Popper terkesan dengan ungkapan Einstein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalm tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum Marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya.

Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yangcrucial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.

Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemologi, dan sampai pada bukunya yang berjudul Logik der Forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul The Open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini Popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik – kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri.[2]

Dari sini Popper menarik kesimpulan bahwa menghadapkan teori-teori pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya adalan satu-satunya cara yang tepat untuk mengujinya dan juga satu-satunya cara yang menungkinkan ilmu pengetahuan bisa berkembang terus menerus. Dan dengan adanya kemungkinan untuk menguji teori tentang ketidakbenarannya berarti teori itu terbuka untuk di kritik dan ia memunculkan apa yang dinamakan Rasionalisme kritis. Demikianlah sekelumit kehidupan Karl Raimund Popper yang mengakhiri hidupnya pada tahun 1994.

Dasar-dasar Pemikiran Popper
1. Asas Falsifiabilitas
Menurut Popper teori yang melatar belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang secermat-cermatnya agar diketahuan ketidakbenarannya.

Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.

Keterbukaan untuk diuji atau falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.

2. Kritik Popper terhadap Positivisme Logis
Popper, dengan demikian, ingin menyelamatkan rasionalisme tetapi dengan catatan. Rasionalisme Popper dikenal dengan rasionalisme kritis. Proyek Popper ini terutama ditujukkan untuk membantah kaum positivisme logis yang berbasis di Wina, Austria dikenal sebagai Lingkaran Wina. Salah satu proyek mereka adalah hendak memisahkan mana ungkapan yang bermakna dan ungkapan yang tidak bermakna. Ungkapan ini bisa ditemukan dalam bahasa sebagai objektifikasi pikiran manusia. Menurut kaum postivisme logis, pemisahan itu ditentukan oleh sejauh mana ungkapan-ungkapan itu bisa ditangkap oleh inderawi atau tidak.

Ungkapan yang tidak bisa ditangkap inderawi berarti tidak bermakna. Sebaliknya, ungkapan yang bisa ditangkap oleh inderawi adalah yang bermakna. Ungkapan yang bermakna inilah, yang hanya bisa diverifikasi secara empiris, yang dianggap oleh kaum positivisme logis sebagai pengetahuan.[3]

Popper menyangkal pandangan kaum positivisme logis tersebut. Dalam pemahamannya manusia tidak mungkin mengetahui semesta pengetahuan hanya dengan mengandalkan verifikasi empiris. Popper memberi contoh kasus angsa putih dan angsa hitam. Orang Eropa selama ratusan atau mungkin ribuan tahun percaya bahwa semua angsa adalah putih karena memang sejauh itu tidak ditemukan angsa selain angsa putih. Keyakinan ini goyah dan kemudian runtuh ketika para pelancong Eropa menemukan angsa hitam di Sungai Victoria di Australia pada pertengahan abad ke-17. Dengan penemuan itu keyakinan orang Eropa terbukti salah. Contoh serupa bisa ditemukan dalam semua hal yang ada di ‘dunia objektif’. Oleh karena itu, bagi Popper, teori pengetahuan selalu bersifat hipotesis dan yang bisa di kritisi dan bahkan disalahkan.

Penutup
Bagi Popper, ilmu dan filsafat menjadi menarik karena ia ingin mempelajari sesuatu tentang teka-teki dunia tempat kita hidup, dan teka-teki pengetahuan manusia mengenai dunia itu. Dia percaya bahwa hanya dengan penghidupan kembali minat pada teka-teki inilah yang dapat menyelamatkan ilmu-ilmu dan filsafat dari spesialisasi sempit dan dari keyakinan serta pada keahlian khusus sang pakar dalam pengetahuan dan otoritas pribadinya.

Daftar Pustaka
Karl R. Popper. Gagalnya Historisisme, terj. Nena Suprapto Jakarta: LP3ES, 1985
Taryadi, Alfons. Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper. Jakarta: Gramedia. 1991
http:// staff.blog.ui.edu/ arif51/ 2008/03 /31/ karl-raimund-popper/.
_____________

[1] http:// staff.blog.ui.edu/ arif51/ 2008/03 /31/ karl-raimund-popper/.
[2] Karl R. Popper. Gagalnya Historisisme, terj. Nena Suprapto (Jakarta: LP3ES, 1985).
[3] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm. 18.

Estetika Pada Masa Klasik


Estetika Pada Masa Klasik

Estetika baru muncul pada abad (18) kedelapan belas, dan sejarah yang mengenai hal-hal yang mengacu pada estetika adalah setua sejarah etika, logika, metafisika, dan epistemology. Filusuf Alexander Baumgarten-lah yang memperkenalkannya di tahun 1750, tapi perintis pertamanya adalah sokrates (469-344 SM).[1]

Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni, dan pengalaman seni, yakni penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni.

pemikiran tokoh-tokoh estetika pada masa Yunani klasik, tokoh-tokoh yang di bahas adalah mulai dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

Yang menarik dari tokoh-tokoh estetika ini adalah perbedaan sudut pandang dan perspektif yang mencolok dari setiap pemikir. Ada yang terfokus pada dunia Idea (Plato), dan ada yang terarah pada pengalaman dunia fisik (Aristoteles). 

Jika istilah estetika diartikan filsafat keindahan, maka sejarah estetika berarti sejarah filsafat keindahan. Kalau kita mencoba memberikan gambaran sejarah filsafat seni dengan perumpamaan pohon filsafat, sebagaimana dikerjakan oleh Descrates dalam bukunya Principia Philoshopine, maka kita harus menganggap filsafat Plato sebagai batang dari segala akar estetika. 

Ketiga orang besar diantara ahli filsafat yunani yang meletakan fondamen pertama tentang estetika yaitu Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah perintis, Aristoteles adalah penerus Plato yang terkenal dengan Dewa Estetika.

1. Estetika Sokrates
Fondamen Sokrates yang meletakkan batu pertama dari estetika (sebelum nama ini diberi nama). Dalam perdebatan antara sokrates dan Happias sokrates meminta ide keindahan “gagasan umum” yang menyebutkan semua barang indah menjadi indah, Sokrates tidak menanyakan apa yang bersifat indah.[2]

Happias menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat mengartikan sama cantiknya seperti benda dan gadis dara. Sokrates member bumbu kepada perkataan Happias: “memang Heraklatus pernah mengatakan bahwa kera yang tercantik, jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga dengan gadis cantik, bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari sorga, sebagaimana orang yang paling arif bijaksan 

apabila dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tanpak kera dalam segala hal. Akan tetapi kita kembali kepada: What the beautiful is.[3]

Walaupun catatan yang diberikan oleh sokrates tidak sistematis, estetika telah lahir ketika sokrates dapat menjawab pertanyaan Happias, dengan perkataan kecantikan bukanlah sifat tertentu dari seribu barang, tetapi dibelakang semua itu terdapat kecantikan itu tersendiri.


2. Estetika Plato
Plato adalah filusuf pertama didunia barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan pandangan yang meliputi hamper semua pokok semua estetika. Pembahasannya tidak utuh dan merupakan suatu system tersendiri, tetapi tersebar sebar dalam karyanya. Berikut ini kita mengumpulkan dan menyingkatkan pandangannya keindahan dan karya seni. 

a). Keindahan 

Plato berpendapat bahwa untuk mengetahui keindahan sesungguhnya, kita terlebih dahulu mengosongkan pikiran dan membersihkan diri dari segala kesalahan dan kekurangan. Kita harus membuang kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan mencoba kembali kedalam kesucian jiwa kita. 

Keindahan dapat dibagi menjadi dua yang pertama tentang dunia idea, dan kedua dunia yang nyata. Pandangan yang pertama, secara mengesankan dan dengan bahasa yang sangat indah, ia kemukakan dalam wawancara semposium sebagi pendirian Socrates. Socrates mengatakan bahwa ajaran itu diterima dari seorang dewata bernama Diotima yang berasal dari Mantineia (dalam terjemahan inggris nama dewata itu adalah “fear the lord from prophetveille”, sesuai dengan sindiran yang termuat dalam bahasa yunani). Menurut pandangan itu, yang indah adalah benda yang material, umpamanya tubuh manusia, yang tampak pada saya. Kalau selanjutnya saya melihat beberapa orang seperti itu, pengalaman akan keindahan meningkat. Lebih jauh lagi manusia merasa diajak untuk ingat pada yang lebih indah daripada tubuh, yaitu jiwa lama kelamaan, socrtaes mengajak pendengar untuk maju terus sampai pada idea yang indah. Itulah yang paling indah, sumber segala keindahan. Semua keindahan lain haknya ikut ambil pada yang indah dalam dunia idea itu, sama halnya seperti idea kebenaran, kebaikan, ataupun segitiga.[4]

Pandangan plato yang pertama didasarkan pada ajaran tentang idea ini, yakni “teori dua dunia”. Dua dunia tersebut adalah ‘dunia idea’ (dunia atas) dan “dunia sehari-hari” (dunia bawah). Menurut plato dunia bawah merupakan tiruan dari dunia atas. Dunia atas digambarkan sebagai dunia idea, yaitu: dunia kebenaran absolute, sejati, dunia rohani, pengetahuan sejati (episteme). Sedangkan dunia bawah adalah dunia yang relative, sehari-hari, fana, kebenaran relative, tiruan, dan hanya merupakan ‘pendapat’. Pandangan kedua, dikemukakan plato dalam salah satu dialognya yang terkenal, yakni phiilebus. Disini dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan yang lebih sederhana lagi. Pada pandangan pertama, yang indah itu dilepaskan dari pengalaman jasmani. Keindahan dalam pengertian hidup sehari-hari adalah tingkat dua saja. Keindahan sesungguhnya hanya ada di dunia idea, sedangkan pandanagn plato yang kedua, yang indah itu tidak dilepaskan dari pengalaman inderawi yang membangun pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 

Pandangan yang kedua ada dalam Philebus. Disana dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang paling sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan ‘sederhana’ ialah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi. Oleh karena itu keindahan bersifat terpilah-pilah baik dalam alam maupun dalam karya seni.[5]

Pandangan plato yang kedua ini mempunyai keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsure konstitutif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 

Bagaimana hubungan antara dunia atas dan dunia bawah? Menurut plato, antara dunia atas dan bawah terdapat hubungan timbal balik. Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui tiga kata kunci: 

1). Paradigma: dunia atas menjadi contoh, prototype, pola, bagi dunia bawah. 

2). Hadir pada: dunia atas selalu hadir pada (presence) dunia bawah. 

3). Partisipasi: dunia bawah mengambil bagian (berpartisipasi) di dunia atas.[6]

b). Karya Seni. 

Plato menyatakan sikapnya terhadap karya seni, terutama dalam karyanya yang terbesar yaitu politea (republik). Dalam penilaiannya ada dua unsur: yang satu teoritis dan kedua praktis. 

Unsur teoritis menyatakan bahwa: segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan tiruan (mimesis) dari yang asli yang terdapat di dunia idea dan jauh lebih unggul daripada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari (mimesis memeseos). Oleh karena itu plato menilai rendah karya seni. Tafsiran plato tentang karya seni sebgai tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini tidak hanya jauh dari pandanagn karya seni dewasa ini, tetapi sudah pada jaman plato dan dalam karyanya sendiri mengalami kesulitan, mungkin karya seni rupa dan sebagian karya sastra, bisa ditafsirkan sebagai tiruan dari kenyataan, tetapi karya seni music amat sulit di tafsirkan.[7]

Jadi menurut plato, karya seni adalah tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini (kecuali music), jadi jauh dari kebenaran sejati. Itulah sebabnya kemapa ia menyebut karya seni sebagai tiruan dari (mimesis memeseos). Plato memiliki dua kebertan terhadap karya seni. Pertama, karena karya seni menirukan sesuatu di dunia ini, yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia idea. Jadi, karya seni adalah tiruan dari tiruan artinya tiruan dua tingkat. Itulah sebabnya mengapa menurut Plato, seni tidak baik untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan. 

Bagi plato, hanya filsafatlah yang pantas menjadi sumber pengetahuan, kebijakan dan moral. 

Keberatan plato terhadap seni terkait dengan pengaruh buruk seni terhadap masarakat. Seni memberi pengaruh bagi penonton dan masarakat. Mengapa? Karena, hakikat seni bersifat emosional. Plato menantang karya sastra dan drama, karena dalam drama banyak terdapat adegan adegan yang kurang baik dipertontonkan dan akan menjauhkan warga Negara dari tugasnya membangun Negara. Baginya, pusi itu prosesnya irasional dan kurang control terhadap akal, sehingga akan member pengaruh buruk pada penontonnya.[8]


3. Estetika Aristoteles 

Sebagai murid plato, Aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan ajaran sang guru, tetapi sudut pandangnya berbeda. Mengapa? Karena Aristoteles menolak dunia idea Plato sebagai sumber pengetahuan. Sumbangan utama Aristoteles bagi estetika diuraikan dalam buku Poetika (poetics). 

a). Keindahan 

Pandangan Aristoteles tentang keindahan agak dekat dengan pandangan kedua dari plato: keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran material. Pandangan ini, menurut Aristoteles menyangkut benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia.[9]

b). Karya Seni. 

Pandangan Aristoteles tentang ini mirip dengan Plato: karya seni adalah sebuah tiruan (imitasi), yakni tiruan dari dunia alamiah dan dunia manusia. Bagi Aristoteles, seni tidak hanya tiruan dari benda yang ada dari alam, tetapi lebih sebagai tieuan dari sesuatu yang universal. Aristoteles tidak setuju dengan penilaian negative Plato atas karya seni, karena dia berpendapat bahwa bentuk-bentuk (form) tidak terpisah dari dunia inderawi, karenanya dia tidak memiliki keberatan terhadap dunia inderawi dan seni yang meniru dunia inderawi. Maksud ini sudah jelas, karena pertam-tama minat aristoteles bukan seni rupa melainkan seni drama dan musik.[10]

Aristoteles cukup panjang lebar memeriksa dan memerinci segala syarat yang harus dipenuhi agar suatu tragedi menjadi karya seni yang sempurna. Yang sangat diperhatikan adalah pandangan pokok Aristoteles yang mendasari syarat-syarat itu, yaitu pandangannya tentang “khatarsis” artinya pemurnian, yang diasalkan dari kata “khatarus” artinya murni atau bersih. Menurut Aristoteles, khatarsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Segala peristiwa, pertemuan, wawancara, keberhasilan, dan kegagalan serta kekecewaan harus di susun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak logis, tetapi juga seolah-olah tak terduga. Pada saat itulah khatarsis terjadi secara tiba-tiba: seakan-akan segala masalah dan kejadian yang muncul bertimbun dalam peran-peran utama dan dalam diri penonton tiba-tiba pecah atau mencair, tak jarang in terjadi secara mengharukan.[11]

Teori khatarsis Aristoteles ini sangat berpengaruh dalam filsafat seni, terutama dalam teori drama. Biasanya khatarsis diharapkan terjadi pada diri penonton dan kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam tentang manusia, sebagai pembebasan batin sebagai pengalaman penderitaan. Dengan demikian, khatarsis ini memiliki makna “terapeutik”, bahkan sering sekali terdapat unsure penyesalan dan perubahan, semacam pencerahan atau pertobatan dalam pengalaman religius.[12]

Kesimpulan 

Keindahan merupakan jalan menuju kontemplasi. Pandangan ini Nampak dalam pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles. Keindahan itu sendiri di anggap ada di luar dan subyek, biasanya dengan penekanan bahwa keindahan itu ada di “seberang’. 

Perhatian akan apa yang secara empiris terjadi didalam diri si subyek termuat dalam pandangan Aristoteles, yang kedua-duanya menyajikan penyelidikan terhadap pengalaman manusia secara aposteriori-empiris. 

Daftar Pustaka 
Eaton, Marcia Muelder, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, Jakarta:Salemba Humanika, 2010. 
Kartika, Dharsono Sony, Nanang Ganda Prawira, Pengantar Estetika, Bandung: Rekayasa Sains, 2004. 
Ali Mathius. Estetika Pengantar Filasafat Seni. Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011 
Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius, 1993. 
___________________
[1] Eaton, Marcia Muelder, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010). hlm. 5 
[2] Kartika, Dharsono Sony, Nanang Ganda Prawira, Pengantar Estetika, (Bandung: Rekayasa Sains, 2004). hlm. 49 
[3] Ibid., hlm. 50 
[4] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 26 
[5] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 26 
[6] Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 15 
[7] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 27 
[8] Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 16 
[9] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 28 
[10] Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 24 
[11] Mudji Sutrisno dan Chris Verhak. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1993). Hal. 29 
[12]Mathius Ali.. Estetika Pengantar Filasafat Seni. ( Jakarta: Sanggar Luxsor, 2011). Hal. 27

Rabu, 07 November 2012

Kau Wanita Cantik Sekali

13 Perkara yang Perlu Dijaga Oleh Wanita.

1. Bulu Kening 
– Menurut Bukhari, Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening.(Petikan dari Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari.)

2. Kaki dan Semacam Hantu Loceng
– Dan janganlah mereka (perempuan) membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan – (Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.) Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng…sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah ….

3. Wangian
– Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong. (Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban.)

4. Dada 
– Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka.(Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.

5. Gigi 
– Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya – (Petikan dari Hadis Riwayat At- Thabrani) Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah. (Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)

6. Muka dan Leher 
– Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.

7. Pakaian yang Nipis (jarang) 
– Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja (Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.)

8. Tangan 
– Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya.(Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani danBaihaqi.)

9. Mata 
– Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya. (Petikan dari Surah An Nur Ayat 31)Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram.(Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.)

10. Mulut (suara) 
– Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik (Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32.) Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi. (Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.)

11. Kemaluan 
– Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin,
hendaklah mereka menundukkanpandangan mereka dan menjaga ehormatan mereka.(Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.) Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya. (Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.) Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah.(Petikan dari Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.)

12. Pakaian 
– Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti.(Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu D , An Nasaii dan Ibn Majah.)Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59. Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri- isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah diken ali. Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perem puan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya. (Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim) Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/ membuka bahagian-bahagian tertentu.

13. Rambut 
– Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya. (Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)
Riwayat Imran bin Hushain ra.:Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya penghuni syurga yang paling sedikit adalah kaum wanita. 

(Shahih Muslim No.4921).